[Nageki no Bourei Vol.14] Chapter 1: Kejatuhan Sang Level 8

THOUSAND Tricks, ditahan.

Mata Hugh melotot. Para ksatria yang lagi mendayung dan tiga penjahat di belakang juga langsung heboh bisik-bisik dengar omonganku.

“Udaranya sejuk, sesekali keluar dari ibu kota itu bagus buat kesehatan. Ah, sekalian aku mau mampir sapa orang-orang yang dulu pernah ditangkap sama party-ku.”

Sudah lima tahun—eh, hampir enam tahun ya aku berkarir di Ibu Kota. Jumlah penjahat yang pernah diringkus Grieving Souls itu sudah enggak terhitung, mungkin ratusan. Karena sebagian besar ditangkap di wilayah Kekaisaran, kuduga pasti ada beberapa persen dari mereka yang nyangkut di Pulau Penjara ini.

“Jangan-jangan… tujuanmu ke sini memang untuk menemui penjahat-penjahat itu…? Ya sudahlah, lagian tidak ada penjara yang lebih ketat dari tempat ini…”

Ya kali? Ngapain juga aku nyari penyakit?

Aku sama sekali enggak ada minat sama penjahat, apalagi yang kemungkinan besar dendam kesumat sama aku. Kalau Luke sih mungkin bakal antusias, tapi kalau aku? Makasih deh.

Perahu terus melaju pelan. Air danau ini bening, tapi enggak ada ikan satu pun. Rasanya semuanya sudah mati punah.

Begitu makin dekat, Pulau Penjara itu mulai kelihatan jelas.

Sama seperti pinggiran danau tadi, pulaunya begitu gersang. Di tanah tandus tanpa tumbuhan itu, berdiri tembok hitam raksasa yang tingginya mungkin sekitar sepuluh meter. Tembok itu memanjang menutupi seluruh isi pulau.

Pulaunya sendiri enggak gede-gede amat sih. Tapi kalau seluruh pulau dipakai buat penjara… Wah, ngeri juga ya. Ada berapa orang ya yang dikurung di sana?

Pas lagi mikir gitu, salah satu ksatria yang mendayung bergumam dengan muka tegang.

“Bisa-bisanya dia tidak berubah raut wajahnya sedikit pun di depan Pulau Penjara ini, Inikah kekuatan Level 8 yang asli…?”

Jadi ternyata orang dalam juga enggak tahu ya aku kesini buat jalan-jalan…

Ya emang sih, kalau aku beneran mau dijeblosin ke penjara raksasa begini, aku juga enggak bakal bisa tenang. Lihat tuh para penjahat kelas Hunter level tinggi yang dipindahkan ke sini dari negara lain, mereka keliatannya sudah mau pingsan.

Bentar, kalau diperhatikan lagi, ksatria yang mendayung sama Hugh juga mukanya pucat.

Jangan-jangan ini………. mabuk laut?

Padahal guncangannya kecil begini lho, aku yang enggak kuat naik kapal aja enggak berasa pusing… Ya ampun, ternyata ksatria elit Zebrudia punya kelemahan juga ya.

“Kalian kok mukanya pucat semua? Kenapa? Mau cokelat enggak biar agak mendingan?”

Pas lagi dikurung kemarin ‘kan aku dibawain banyak cokelat, jadi aku stok deh di saku.

Maksudku sih baik ya, tapi ksatria itu malah natap aku kek lagi lihat setan terus meludah:

“Cih… Dasar monster!”

“…Y-ya sudah kalau enggak mau… bener juga sih, cokelat mungkin enggak bagus buat yang lagi mabuk laut.”

“!?”

Tapi ya ampun, dipanggil ‘monster’ itu keterlaluan lho. Padahal aku cuma mau kasih cokelat… Tapi ya sudahlah, anggap saja pengalaman unik. Lagian memang bener sih, Hunter Level 8 selain aku emang isinya monster semua.

Sambil berusaha tabah, aku tanya lagi ke Hugh.

“Nanti kalau sudah sampai, aku boleh enggak jalan-jalan keliling penjara buat tur gitu?”

“…Terserah kamu saja.”

Terus apa lagi ya yang ditanyain Sitri kemarin… oh, iya.

“Kalau ada penjahat Level 7 ke atas yang kira-kira berguna, boleh enggak aku minta datanya?”

“!?”

“Ah, enggak harus Level 7 sih, yang penting kekuatannya setara Level 7 juga boleh. Apalagi kalau dia magi, bakal lebih oke lagi…”

“K-kamu… mau merencanakan apa sebenarnya?!”

Mana kutahu. Aku juga penasaran si Sitri mau ngapain sama info begituan.

Perahu akhirnya merapat, dan kami turun dipandu para ksatria. Tiga orang lainnya ditarik paksa dalam kondisi mata tertutup, tangan diborgol, dan pakai baju pengekang.

Dari dekat, Pulau Penjara ini rasanya dingin dan kaku. Lebih sangar daripada penjara di kota Code, dan suasananya sepiii. Seperti lagi di dimensi lain. Sampai-sampai muncul pikiran konyol di kepalaku: jangan-jangan kalau dibiarin lama, pulau ini bakal berubah jadi Treasure Vault saking anehnya.

Kami digiring sampai ke sebuah gerbang besar. Di depan pintu logam yang kelihatan kokoh itu, berbaris pria-pria bermuka sangar pakai seragam abu-abu.

Salah satu dari mereka—pria dengan luka di wajah yang mukanya beneran ‘jahat banget,’ ngomong ke kami:

“Kerja bagus dengan misi pengawalannya. Jadi mereka ini target penyegelan berikutnya? Kenapa ada satu yang tidak memakai baju pengekang—”

“Dia orangnya.”

“Hmph… Thousand Tricks. Pahlawan Zebrudia yang sudah membuat banyak prestasi gila. Kasihan sekali, sekarang malah berakhir di tempat sampah seperti ini.”

Pria bermuka jahat itu mendekat dan memelototiku.

Galak bener sih omongannya.

Mungkin dia juga belum dikasih tahu duduk perkaranya… tapi ya sudahlah, toh aku cuma mampir bentar. Mending aku sok asyik saja.

“Jangan galak-galak dong, aku sebenarnya sudah enggak sabar lho pengen ke sini. Ayo kita berteman baik.”

“…Jangan harap ada perlakuan khusus hanya gara-gara kau mantan pahlawan. Semua yang datang kesini itu kriminal kelas kakap. Tugas kami bukan hanya menjaga kalian, tapi ‘menyegel’ kalian. Bukan hanya kau, siapa pun yang masuk Pulau Penjara ini tidak punya hak apa-apa lagi—tidak ada jaminan.”

Mata tajamnya seolah mau nembus kepalaku. Dia lanjut ngomong dengan cepat:

“Hak untuk hidup, hak untuk mati, hak jalan-jalan, hak bicara, hak makan, hak tidur, hak memiliki barang, sampai hak untuk menyerap Mana Material pun—TIDAK DIJAMIN. Dasar sampah masyarakat. Itulah hukuman bagi kalian. Berdoalah supaya tidak mati mengenaskan di dalam sana.”

Wah, Pulau Penjara Eastseal… sepertinya tempat ini jauh lebih ngeri dari bayanganku.

Ya emang sih di mana-mana penjahat dihukum berat. Code yang canggih itu juga sebenarnya cukup parah dalam arti lain…

“Sisanya biar kami, para sipir, yang urus. Kalian boleh kembali. Woi, bawa masuk para sampah ini! Pertama, pemeriksaan tubuh. Di penjara ini tidak boleh membawa barang pribadi apa pun. Kerikil satu biji pun dilarang.”

Dia memelototiku sambil mendengus keras. Eh, ngomong-ngomong aku dari tadi enggak ada yang disita ya… Ya wajar sih karena aku mau bebas, tapi biasanya kriminal ‘kan senjatanya diambil dulu. Pasti di matanya aku yang pakai relik berceceran di sekujur tubuh ini kelihatan aneh.

Para sipir langsung mengelilingi kami berempat. Di saat itulah, Hugh ngomong ke pria itu dengan nada kaku:

“Baiklah, sisanya kami serahkan pada anda. Tapi sebelum itu, ada satu hal penting yang ingin aku pastikan…”

SISTEM kerja sipir di Pulau Penjara Eastseal menggunakan sistem sif atau pergantian berkala. Karena jika berdiam terlalu lama di sana, Mana Material mereka akan terkuras habis sampai ke tingkat yang sangat lemah, maka orang-orang dengan daya tampung Mana Material yang kuatlah yang dipilih untuk bertugas dan diganti setiap tiga bulan sekali.

Penjara dioperasikan dengan jumlah personel minimum. Penanggung jawab tertinggi adalah Marquis Orter, tapi karena dia jarang datang ke pulau, pemimpin lapangan yang ada saat itu menjadi pengelola penjara secara praktis.

Zinn Bane, pemimpin sipir saat ini, seorang mantan Treasure Hunter andal yang direkrut untuk jabatan merepotkan ini, merasa bahwa ksatria muda dari Zero Knight Order yang ikut dalam rombongan pengawal itu sudah tidak waras setelah mendengar perkataannya.

“Hah? Meminta perlakuan khusus?! Kau ini dengar tidak apa yang kubicarakan tadi?!”

Pulau Penjara adalah wilayah ekstrem tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak bisa ditangani oleh penjara biasa. Fokus utama penjara ini memang pada pelemahan narapidana melalui karakteristik tanahnya, namun ketegasan dalam menghadapi para penjahat tersebut tetap menjadi syarat mutlak.

Di antara para narapidana, ada banyak petinggi organisasi yang masih punya pengaruh luas. Selama ini, sudah sering kali datang suap agar mereka diberikan berbagai “kemudahan.”

Namun, Zinn beserta seluruh sipir di penjara ini selalu menolak mentah-mentah hal tersebut. Akibatnya, ada saja sipir yang nyawanya diincar. Meski begitu, mereka tidak boleh goyah. Sekali saja mereka berkompromi, fondasi penyegelan yang kokoh ini akan retak, apalagi mengingat mereka yang dikirim ke sini adalah orang-orang paling berbahaya di dunia.

Semua sipir di penjara ini sadar sepenuhnya bahwa kemampuan mereka sendiri akan merosot demi menjalankan misi ini.

Lalu, bisa-bisanya seorang ksatria dari Zero Knight Order, satuan di bawah komando Kaisar langsung, malah datang meminta keringanan untuk seorang tahanan.

“Aku paham cara pikir anda. Tapi situasi ini sangat sensitif. Kami akan kesulitan jika anda tidak memberikan sedikit kelonggaran. Lagipula, kupikir sudah ada pembicaraan dari komandan kami…”

“Tidak ada yang bilang apa-apa pada kami. Kami tidak akan memberi kelonggaran. Lagipula, apa yang bisa kami lakukan di sini terbatas, tapi yang jelas, aku akan menjalankan tugas sesuai aturan. Aku tidak peduli urusan gila apa yang kau bawa, tapi kalau mau perlakuan khusus, bawa saja surat perintah resmi dari Kepala Penjara—Marquis Orter.”

Para sipir yang mengelola penjara ini semuanya adalah spesialis tempur, namun para narapidana di dalamnya jauh lebih berbahaya lagi. Tanpa bantuan karakteristik tanah pulau ini, mustahil bisa menahan mereka dalam waktu lama. Karena itu, tugas utama Zinn dan timnya sebenarnya sangat sederhana: jangan sampai ada penjahat yang keluar.

Tugas mereka berfokus pada pengawasan, dan mereka hampir tidak pernah masuk ke area yang sama dengan para tahanan karena saking berbahayanya. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin mereka bisa memberikan perlakuan khusus?

“Fungsi penjara ini ada dua. Pertama, melemahkan kemampuan mereka dengan karakteristik tanah. Kedua, membiarkan para penjahat itu saling bertikai supaya tidak kepikiran untuk kabur. Makanya, anggota organisasi yang saling bermusuhan sengaja dikumpulkan di sini. Mantan Hunter level tinggi seperti dia akan jadi mangsa empuk di dalam sana.”

Benar-benar cara yang tidak waras. Tapi sepertinya negara-negara sudah saking putus asanya sampai harus mengambil langkah seekstrem ini. Sebagian besar orang di sini adalah buronan berhadiah. Kalau saja Zinn bisa menangkap mereka semua sendirian, dia pasti sudah bisa hidup tenang selamanya.

Dasarnya, siapa pun yang dimasukkan ke sini tidak akan pernah keluar lagi sampai mati. Orang yang masih punya harapan untuk bebas tidak akan dikirim ke tempat ini.

Mendengar ucapan Zinn, Hugh mengernyitkan dahi, namun akhirnya mengangguk meski terlihat terpaksa.

“Baiklah. Mungkin ini kesalahan prosedur. Aku akan coba menghubungi Marquis Orter. Lagipula tanpa perlakuan khusus pun, Thousand Tricks sepertinya tidak akan ada masalah.”

Thousand Tricks. Sebuah nama besar yang juga diketahui oleh Zinn. Sebelum jadi sipir, entah sudah berapa kali buruannya disambar duluan oleh pemimpin Grieving Souls tersebut.

Dia adalah orang yang mengerikan. Hal tersulit dalam memburu buronan adalah menemukan targetnya, tapi party tersebut bisa dengan mudah menemukan dan menangkap banyak buronan mahal sekaligus. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan hanya dengan kekuatan otot semata.

Zinn belum pernah bertemu langsung, namun sosok aslinya sangat berbeda dari yang ia bayangkan. Padahal pria itu baru sebentar menginjakkan kaki di pulau ini, tapi hawa keberadaannya yang kuat sudah hilang total.

Tidak mungkin seorang Level 8 punya daya tampung Mana Material yang rendah. Tapi Zinn penasaran… bagaimana pria yang kelihatan lemah itu akan bertahan hidup di dalam penjara ini.

“Aku tunggu hasilnya. Tapi sebaiknya kau cepat. Semakin lama dia di dalam, semakin besar kemungkinan Thousand Tricks tewas mengenaskan.”

“Justru kalian yang harus hati-hati. Thousand Tricks itu orang yang tidak bisa diukur dengan logika. Sebentar lagi anda yang akan menangis padaku dan minta agar dia diberi keringanan.”

Apa-apaan maksud omongan aneh itu?

Di tengah kebingungan Zinn, Hugh hanya mengangkat bahu sekali lalu berjalan kembali ke arah rombongan pengawalnya.

SETELAH berpisah dengan Hugh, aku digiring para sipir masuk melewati gerbang.

Hal pertama yang menyambutku adalah sebuah bangunan logam raksasa yang kelihatannya kaku.

Bagi orang yang sudah menyerap Mana Material, material bangunan biasa itu cuma seperti biskuit rapuh yang gampang remuk. Tampaknya bangunan penuh aura intimidasi ini dibuat dari material yang tidak akan bisa ditembus dengan mudah, bahkan oleh penjahat kelas Hunter level tinggi sekalipun. Pasti sudah dipasang pelindung sihir atau semacamnya juga.

“Apa penjaranya ada di dalam gedung itu?”

“…………”

“Tahanannya ada berapa orang?”

“…………”

“Sipirnya ada berapa orang?”

“…………”

“Berisik sekali! Mana mungkin kami jawab pertanyaan tahanan!” bentak sipir yang di depan (kayaknya namanya Zinn) dengan nada kesal.

Yah, bener juga sih omongannya. Dia ‘kan belum tahu kalau aku dapat perlakuan khusus… nanti deh aku tanya ke Hugh saja.

Di dalam gerbang suasananya begitu sepi, enggak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan. Saat masuk ke dalam gedungnya pun sama, sunyi senyap.

“Mirip banget sama penjara di Code ya. Di sana juga hampir enggak ada orangnya.”

Yang aku lihat cuma tahanan sama satu mbak-mbak pemandu doang. Tapi ya kalau di Code karena sistem kotanya sudah canggih sampai semua diurus otomatis, kalau di sini pasti beda alasannya.

“Code…? Mana ada penjara yang mirip dengan tempat ini!”

“Iya, iya. Aku juga cuma kebetulan saja pernah main ke sana…”

Yah, secanggih apa pun penjara zaman sekarang, rasanya enggak bakal menang lawan produk peradaban fisik tingkat tinggi.

Setelah melewati beberapa gerbang jeruji besi yang digembok, aku dipisahkan dari tiga orang tahanan yang tadi mengikutiku dan diantar ke sebuah ruangan. Yang menjagaku adalah Zinn-san yang dari tadi galak banget sama aku.

“Barang pribadi dilarang dibawa masuk. Semuanya akan disita di sini. Harusnya prosedur ini dilakukan sebelum kau dibawa ke sini.”

Dilarang bawa barang pribadi ya… wajarlah. Kemarin Hugh enggak ambil barang-barangku pasti karena perlakuan khusus itu—

“…Nanti bakal dibalikin, kan?”

Jelas banget itu tindakan buat mencegah para tahanan pada kabur. Pelarian massal dari Penjara Agung Southisteria masih belum terpecahkan, tapi ya katanya hal itu sama sekali enggak mungkin terjadi tanpa bantuan dari luar. Makanya si Sitri dicurigai.

“Tergantung situasi. Jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu, paham?”

Enggak bakal kusembunyiin kok… lagian mau sembunyiin di mana juga? Aku pun melepas satu per satu relik yang kupakai dan menyerahkannya.

Yah, keamanan di dalam penjara pasti ketatnya berlapis-lapis, jadi meskipun enggak pakai Safe Ring, kuduga semuanya bakal aman-aman saja, mungkin.

Mata Zinn-san sampai melotot pas lihat jumlah relik yang kupunya saking banyaknya.

“Cih… Kau harus ganti baju juga. Borgolnya… sudah terlambat sekarang”

Duh, peraturan itu merepotkan ya. Padahal aku ‘kan enggak beneran dipenjara… tapi ya sudahlah, kapan lagi coba bisa merasakan pakai baju tahanan. Anggap saja pengalaman seru.

Baju tahanan yang dibawakan Zinn-san ternyata lembut, nyaman di kulit, dan desainnya simpel pol.

“Kalau rusak tidak ada ganti. Ini dibuat dari bahan yang mustahil bisa dijadikan senjata. Jangan harap bisa disalahgunakan.”

…Oh, pantesan aku mikir kok baju tahanan malah lembut begini. Ternyata sudah dipikirin matang-matang ya. Tapi dia galak banget ya… sepertinya dia sudah bicara dengan Hugh, dan seharusnya sudah tahu soal perlakuan khusus—

…Eh, tunggu dulu? Jangan-jangan karena aku bilang mau “tur keliling,” dia sedang menunjukkan bagaimana sebenarnya penjara itu? Kalau iya, wah, perhatian banget ya, meski aku enggak minta sampai segitunya sih.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari ruangan sebelah. Zinn-san cuma angkat bahu santai.

“Kalau berontak ya bakal jadi begitu. Yah, bagi orang sepertimu mungkin tidak ada alasan untuk berontak, tapi aku ingin lihat apa muka loyo itu akan bertahan lama di dalam sana.”

“Wah, apa di dalam penjara sehebat itu? Jadi deg-degan nih.”

“…Hunter level tinggi memang isinya orang gila semua.”

Zinn-san bergumam sambil mengernyitkan dahi.

Aku setuju banget sama dia. Ya enggak sampai dibilang gila sih, tapi Hunter level tinggi yang aku kenal emang kekuatannya di luar nalar manusia semua. Masalahnya, aku yang cuma menang di ‘Level’ doang sering dianggap mirip sama mereka, kan jadi repot akunya.

Tapi, kalau banyak penjahat kelas Hunter level tinggi di sini, Sitri pasti bakal seneng mampus deh. Biasanya aku ogah ketemu mereka, tapi mumpung lagi di sini, mari kita kerahkan semangat buat tur keliling!

Setelah ganti baju, aku dibawa keluar ruangan lagi.

Kami melewati lorong yang bercabang-cabang seperti labirin sampai akhirnya ketemu pintu hitam besar. Di situ tertempel banyak stiker peringatan, mirip pintu yang pernah ditunjukn Mary-san.

“Di depan ini adalah blok penjara. Begitu kau lihat isinya, kau tidak akan berani lagi kepikiran untuk berbuat jahat.”

Pintu terbuka. Di dalamnya ada lorong sempit yang panjang. Bedanya sama lorong tadi, sisi kiri, kanan, sampai langit-langitnya itu bentuknya jeruji besi, jadi kita bisa lihat ke sisi baliknya.

Di balik jeruji itu, ada segerombolan orang dengan mata melotot tajam lagi pasang mata ke arahku. Matanya pada berkantung hitam, bajunya compang-camping. Ada yang setengah telanjang, ada juga yang badannya kurus kering.

Jerujinya berlapis-lapis sih, jadi mereka enggak bisa nyentuh aku, tapi tekanan dari tatapan mata mereka bikin aku refleks nahan napas. Apa semuanya yang di sini itu orang berbahaya?

Aku coba celingak-celinguk nyari wajah yang kukenal, tapi enggak ada.

Mungkin aku cuma lupa saja kali ya…

Padahal orangnya bejibun, tapi enggak ada yang bersuara. Mereka cuma ngelihatin doang. Justru itu yang bikin makin serem.

Rasanya seperti lagi dikelilingi monster pemakan manusia yang lagi diem nunggu mangsa masuk jebakan—padahal sekarang aku lagi ada di kondisi paling lemah seumur hidup karena enggak bawa relik satu pun.

Bener kata Zinn-san, setelah lihat ini, mending jadi orang baik-baik saja deh seumur hidup.

“Semuanya tampaknya senang menyambut anak baru. Hati-hati, jangan sampai ‘ditelanjangi’ oleh mereka.”

“…Enggak ada aturan atau tata tertibnya banget ya.”

Apa enggak dikelola ya? Terus mereka makannya gimana coba?

“Tapi, sejak penjara ini dibangun, tidak ada satu pun yang bisa kabur. Heh, semoga kalian bisa akur.”

“Eh…? Aku enggak mau akur ah.”

“Terserah kau saja. Ayo, jalan.”

Bukannya enggak mau akur sih, tapi kalau bisa aku enggak usah masuk ke dalam jeruji itu deh. Orang-orang di dalam kayaknya enggak diikat sama sekali, apa enggak bahaya tuh?

Suasana penjaranya sih aku sudah paham, jadi kalau aku dapat info soal orang-orang di sini, sudah cukup buat jadi oleh-oleh ke Sitri.

Aku digiring sampai ke depan pintu jeruji terakhir. Di balik lima lapis pintu itu, sudah banyak orang berkerumun.

“Belajarlah aturan di sini. Tenang saja, orang-orang di bagian ini masih tergolong ‘aman.’ Mereka hanyalah pecundang yang tidak keterima di grup mana pun di penjara ini.”

“Eh? Serius?”

Tapi kok mukanya enggak ada aman-amannya sama sekali ya…

Zinn-san buka kunci pintu pertama. Waduh, sepertinya aku beneran disuruh masuk ke sana. Padahal aku enggak ada niat pengen curhat-curhatan sama kriminal lho…

“Ma-mangsa baru… darah… daging…”

“Pria ya… cih, ampas.”

“Bajunya masih baru…”

“Kelihatannya lemah… bisa ini… mataku tidak pernah salah lihat mangsa.”

Iya deh, iya… aku tahu kamu yang setengah telanjang itu pasti iri lihat bajuku yang masih baru.

Pas aku deketin, badan para kriminal itu penuh luka. Kelihatannya lingkungan di dalam sini emang kerasnya bukan main ya.

Pintu terakhir kelihatan jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Tapi kalau diperhatikan, di permukaannya ada bekas goresan tipis. Mirip bekas cakaran kuku. Berarti orang-orang di sini, biarpun cuma di permukaan, sanggup gores logam pakai kuku doang.

…Yakin nih aku beneran aman masuk ke situ?

Zinn-san ninggalin aku yang lagi bengong kebingungan dan buru-buru balik ke pintu pertama.

“Pintu terakhir hanya bisa dibuka dari dalam. Kalau sudah buka, jangan lupa tutup lagi. Bakalan repot kalau mereka sampai keluar ke sini, hanya membuang-buang oksigen mendorongnya kembali.”

“!? Wah, turnya menantang nyali banget ya!”

“…Silakan dinikmati turnya sepuas hati.”

Kalau bisa sih aku pengen tur yang mengutamakan keselamatan ya… Tapi ya sudahlah, Zebrudia ‘kan negara maju. Mungkin tempat ini kelihatan ngeri tapi aslinya aman. Siapa tahu ada sistem otomatis mirip di Code yang bakal langsung nembak kalau aku diserang.

Para kriminal itu ngelihatin aku sambil jilat bibir dengan mata merah. Kelihatannya begitu pintu dibuka, mereka bakal langsung nerjang aku.

Waduh gimana nih… Pas lagi mikir gitu, tiba-tiba salah satu orang yang lagi nunggu di depan pintu teriak kaget.

“!? !!??? UWAAAAH! Kau kan—Thousand Tricks! Kenapa kau bisa ada di tempat seperti iniiii?!”

“Eh…?”

Situ siapa ya?

“!? S-siapa dia?”

“Itu orangnya! Pemimpin Grieving Souls yang jahat dan kejam itu! Dia itu bajingan yang nipu anak buahku, pura-pura mau gabung ke grup kami biar kami lengah, lalu sehabis itu kami dibantai semua! Terus ada juga yang tiba-tiba ditebas, atau dijadikan kelinci percobaan untuk potion aneh!! Aku sudah tahu dia pasti bakal ketangkap, tapi tidak disangka bakal dibuang ke sini juga!”

…Maaf, situ yang mana ya?

“Terus dia itu sangat licik, sengaja giring monster sampai ke markas kami biar dia tidak perlu mengotori tangan sendiri! Padahal kelakuannya iblis begitu, kenapa bisa-bisanya jadi Level 8! Dia ini penjahat murni!”

“…Bentar, bentar, aku bingung pilihannya terlalu banyak.”

Jahat banget ya omongannya, tapi ya bagi kriminal Red, party-ku mungkin kelihatan kek penjahat juga pasti. Padahal aku hampir enggak inget lho pernah ngelakuin itu semua. Udah seribu orang yang kami lawan soalnya.

“Kami juga dihancurkan sama dia! Padahal kami tidak pernah cari gara-gara sama Grieving Souls!”

“Mereka kasih kita poin lalu tanding skor layaknya bermain game!!”

“Sudah dipukuli sampai babak belur, tapi badan kita malah dijadikan alas buat mereka tap dance!!”

“Padahal cuma musuhan sedikit, tapi organisasi rekanan kami langsung memutuskan hubungan gara-gara takut sama dia!”

“Gara-gara lihat si Immutable, anak-anak muda di grup kami langsung pada pensiun semua!”

“Temenku dikutuk jadi katak dan sampai sekarang masih jadi katak!!”

Wah, banyak banget komplainnya… padahal mukanya satu pun enggak ada yang aku inget.

Tapi gawat juga. Walaupun aku enggak kenal mereka, para kriminal yang ngepung aku ini mukanya sudah nafsu mau berantem. Biarpun mereka kurus kering, gemeteran, dengan handicap sebar begitu dan kelihatan menderita, tetap saja kalau lawan aku mah mereka yang bakal menang. Karena yang nangkep mereka ‘kan anggota Grieving Souls yang lain, bukan aku. Lagian jumlah mereka banyak banget lagi.

Aku lirik ke Zinn-san, tapi dia cuma diem doang sambil pasang muka bete ngelihatin situasinya.

Duh, ini penjara kok isinya orang yang galak sama aku semua ya.

Aku tarik napas dalam-dalam terus mencoba negosiasi.

“Te-tenang semuanya! Yang sudah berlalu biarlah berlalu, ayo kita buka lembaran baru!”

“!? K-kau jangan sok bijak ya!!”

…Bener juga sih. Tapi ‘kan yang salah kalian sendiri kenapa jadi penjahat. Biasanya Hunter kriminal Red itu dianggap hama masyarakat. Jadi sejauh apa pun Luke nebas mereka, dia enggak bakal ditangkep karena kalian memang pengganggu.

Kayaknya mending aku enggak usah masuk ke dalam deh… walaupun mungkin ada sistem pertahanan otomatis, tetep saja serem.

Pas aku mau balik badan buat bilang ke Zinn-san kalau aku berubah pikiran, tiba-tiba terdengar suara yang meremehkan.

Kukuku… dasar orang-orang bodoh, malah memikirkan balas dendam. Biarpun mantan Level 8 ini baru saja sampai di pulau ini, kalian semua dikumpulkan jadi satu pun tidak akan sanggup menang lawan dia.”

“!?”

Suara itu datang dari lorong yang baru saja aku lewati.

Tahu-tahu, di situ sudah berdiri tiga orang yang pakai baju yang sama denganku. Tiga orang yang satu perahu denganku tadi. Sepertinya pemeriksaan tubuh mereka sudah selesai.

Yang ngomong tadi adalah cowok di depan yang matanya tajam dengan rambut cokelat kemerahan gelap. Tangannya masih diborgol, tapi baju pengekang sama penutup matanya sudah dilepas.

Sama sepertiku, dia dipandu sipir melewati gerbang jeruji dan berjalan ke arahku. Sambil jalan dengan gaya angkuh seolah mau gertak orang, dia teriak kencang:

“Pilihan untuk kalian hanya dua: tunduk, atau kabur sambil menangis. Pakai otak kosong kalian untuk memilih mana yang paling benar. Ya kan, Thousand Tricks-san?”

Terus, cowok tinggi pakai kacamata berbingkai hitam di belakangnya pasang mata tajam ke para kriminal di lorong dan lanjut ngomong:

“Berdasarkan data, kemungkinan kalian menang lawan Thousand Tricks itu hampir nol. Apalagi sekarang Mana Material kalian lagi dikuras, semakin tidak ada harapan. Lagian kalian itu tidak punya koordinasi dan tidak punya nyali. Minggir kalian.”

“…………”

Terakhir, cewek yang ngumpet di belakang cowok itu enggak ngomong apa-apa. Dia cuma mengernyitkan dahi sambil melotot ke arahku.

Rambutnya putih bersih bak salju, sepertinya dia lebih muda dariku. Dibanding semua penghuni di sini, dia yang paling muda. Salah apa sih ini anak sampai dikirim ke Pulau Penjara di usia segini?

Bentar, ini kenapa mereka bertingkah kek anak buahku ya? Padahal nama kalian saja aku enggak tahu lho?

Zinn-san pasang muka capek, tapi dia enggak ngomong apa-apa lagi.

Cowok yang tadi teriak langsung nyamperin aku terus rangkul bahuku sok akrab.

“Tapi kalau kalian masih maksa mau bertarung, aku, sekutu Thousand Tricks-san, mantan Hunter Level 6 yang dijuluki The Bloody (berlumuran darah) Jack, yang bakal jadi lawan kalian. Hehe… dikawal di kereta kuda yang sama itu namanya takdir. Ya kan, Thousand Tricks-san?”

“Ah, iya…”

…Ya sudahlah, toh aku juga bentar lagi keluar, kalau kalian mau berantem ya silakan saja.

Pas aku lagi pasrah ngikutin alur, cowok di belakang Jack yang lagi celingak-celinguk seperti lagi menilai situasi ikut nimbrung.

“Tenang saja. Kami ini orangnya toleran kok. Kalau kalian mau buang dendam kalian dan ikut kami dengan logis, kami tidak akan jahat. Bos Besar, serahkan urusan remeh-temeh ini ke saya, The Unwarring (anti-perang) Grand. Datanya sudah lengkap semua.”

“…Boleh juga.”

Orang pakai kacamata biasanya bisa diandalkan sih. Ini semua gara-gara Eva yang bikin aku mikir gitu. Terus, julukan “The Unwarring” itu kedengarannya oke juga. Walaupun ya ujung-ujungnya dia tetep saja dijeblosin ke Pulau Penjara sih.

Pas aku lihat orang terakhir, dia ngomong dengan nada malas.

“…The Omnivore (pemakan segalanya) Zack. Anggota tertinggi organisasi rahasia Last Table (perjamuan bangkai). Aku di sini karena kehendak yang agung. Kasusku… membunuh dan memakan lima ratus orang. Bagian tubuh favoritku… testis.”

Gila, ini anak bahaya banget! Jauh lebih ngeri daripada si Jack. Padahal aku pikir namanya Zack itu aneh buat cewek, tapi ternyata isi omongannya jauh lebih parah!

Orang-orang yang tadinya bingung denger omongan Jack sama Grand langsung pada pucat pasi dan mundur teratur. Last Table apaan lagi coba? Belum pernah dengar seumur hidup. Penjahat emang banyak, tapi yang hobi makan orang itu langka. Padahal di dunia ini ‘kan masih banyak makanan enak lain… Tolong, siapa pun selamatin aku!

“…Salam kenal.”

“…Hu-uh, iya.”

Yah, tapi aku juga enggak berani macam-macam sama orang yang sudah makan lima ratus orang sih.

Para tahanan yang tadinya nunggu di depan pintu langsung minggir seperti air surut. Jack dan yang lainnya buka pintunya lebar-lebar, terus berdiri di kiri-kanan kayak lagi kasih jalan buat aku lewat. Sepertinya aku enggak punya jalan buat kabur.

Aku cuma bisa buang napas panjang, terus melangkah masuk ke dalam penjara.

KONDISI di Pulau Penjara Eastseal benar-benar sangat ekstrem. Sebagai seorang Hunter, Jack telah berkali-kali melewati situasi antara hidup dan mati, dan ia tidak merasa kemampuannya rendah.

Namun, untuk bisa bertahan hidup sendirian menghadapi situasi sesulit ini adalah hal yang mustahil. Itulah kesan jujur yang dirasakan oleh Jack—bukan, oleh mereka bertiga saat mulai mendekati Pulau Penjara Eastseal.

Tanah yang sangat langka di mana Mana Material diambil. Selain itu, orang-orang yang mendekam di dalam sana pun pastilah kumpulan individu berbahaya yang memang layak berada di penjara sekejam itu.

Secara kebetulan, tiga orang yang dibawa sebagai “bonus” bersama Thousand Tricks kali ini memiliki sebuah kesamaan yang unik. Pertama, mereka tidak memiliki kemampuan tempur yang terlalu menonjol. Kedua, mereka berasal dari negara yang letaknya sangat jauh dari Kekaisaran. Dan ketiga, mereka tidak memiliki dukungan atau latar belakang dari organisasi mana pun (Tepatnya, Zack adalah anggota organisasi, tapi tampaknya tidak ada anggota organisasi tersebut atau organisasi mana pun yang telah membentuk aliansi dengannya di pulau penjara itu.)

Hubungan sosial antarmanusia pasti tetap terjalin di dalam penjara. Pulau Penjara ini memang menampung penjahat dari segala penjuru, namun sebagian besar adalah mereka yang tertangkap di sekitar wilayah Zebrudia. Jika dibiarkan begitu saja, Jack dan kawan-kawan yang tidak memiliki dukungan maupun reputasi besar pasti akan diremehkan oleh napi lainnya.

Strategi yang dipikirkan Jack untuk memecah kebuntuan ini adalah dengan memanfaatkan sosok Thousand Tricks.

Seorang Hunter Level 8 adalah keberadaan yang sangat langka, bahkan mungkin tidak ada satu pun di negara kecil. Bagi Jack, yang merupakan mantan Hunter Level 6 dan memiliki nama cukup dikenal di Pepri, level kekuatan tersebut bukanlah sesuatu yang berani ia tantang.

Lagi pula, sosok yang tiba-tiba datang dan menghancurkan kekuasaan Jack di Pepri sebelumnya pun bukan seorang Level 8. Maka dari itu, jika ia berlindung di bawah nama besar Thousand Tricks yang merupakan Level 8 ternama dari Zebrudia, setidaknya posisi mereka di dalam penjara ini akan aman.

Bahkan, dengan memanfaatkan wibawa tersebut, membangun kekuatan baru di dalam Pulau Penjara ini pun bukanlah hal yang mustahil. Untungnya, selama proses pengawalan, mereka sempat memiliki waktu untuk saling berkomunikasi. Meskipun dalam kondisi memakai baju pengekang, penutup mata, dan penyumbat telinga, masih ada hal yang bisa dilakukan. Walaupun mereka tidak sepenuhnya saling percaya, namun tujuan mereka saat ini sama.

Mereka sedang berada di lorong menuju bagian dalam Pulau Penjara. Jack menolak untuk menjadi sama dengan kerumunan orang tidak jelas yang berkumpul hanya untuk memangsa pendatang baru.

Sesuai dugaan Jack, para tahanan yang berkerumun di lorong tersebut sepertinya tidak memiliki level yang tinggi.

Dari pintu keluar dengan perlahan—tidak, masuk ke dalam blok penjara, Thousand Tricks melangkah masuk dengan perlahan. Jack mengikuti dari belakang sambil terus waspada, sementara pria di depannya itu tampak tidak menunjukkan sikap waspada sedikit pun terhadap lingkungan sekitar.

Dengan ini, Jack, Grand, dan Zack telah resmi menjadi bawahan Thousand Tricks. Setidaknya, itulah persepsi yang terbentuk di mata orang-orang di sekitar mereka.

Bagian dalam penjara tersebut menyerupai labirin. Di sepanjang lorong yang remang-remang hanya sinar matahari dari jendela atap yang menjadi sumber cahaya, terlihat banyak penjahat dengan wajah pucat duduk mendekam di dalam sel-sel penjara. Di beberapa bagian langit-langit dan dinding terdapat bercak darah yang mengering, membuat tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti penjara milik negara maju, melainkan lebih mirip dengan kawasan kumuh.

Thousand Tricks yang berjalan di depan tampak mengernyitkan dahi.

“Tempat yang sangat mengerikan, ya.”

“Benar-benar tidak terurus. Sejak awal memang tidak ada informasi mengenai hal ini.”

Biasanya, sebagian besar kriminal Red akan dijatuhi hukuman kerja paksa setelah tertangkap. Di Pepri, mereka sering dikerahkan untuk membasmi monster, namun kali ini Jack sama sekali tidak mendengar hal semacam itu dari para sipir. Malah sejak masuk ke dalam penjara, ia tidak melihat satu pun sipir. Para tahanan dibiarkan melakukan apa pun sesuka hati mereka. Grand menaikkan kacamatanya dan berkata:

“Kita perlu mengumpulkan data. Namun, prioritas utama adalah melepaskan borgol ini terlebih dahulu.”

“Benar sekali. Memakai benda seperti ini sama saja dengan mengundang orang untuk menyerang kita. Meskipun sepertinya Thousand Tricks-san sudah berhasil melepaskannya.”

Sejauh mata memandang, sebagian besar penghuni di sini memang sudah tidak memakai borgol. Ada beberapa yang masih memakainya namun dengan rantai yang sudah putus—ini menandakan bahwa bukan pihak sipir yang melepaskan borgol tersebut. Bagi mereka yang dikurung di sini, borgol bukanlah masalah besar, setidaknya sebelum Mana Material mereka terkuras habis.

Dan jika pemikiran Jack benar, cara seseorang menangani borgol ini akan menentukan hierarki mereka di dalam penjara. Jika tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan borgol saja, maka membangun kekuatan baru di tempat ini hanyalah mimpi belaka.

Jack menyeringai, lalu berbicara kepada pemimpin baru mereka.

“Hehe… Thousand Tricks-san. Apa kamu bisa membantu kami melepaskan borgol ini?”

Saat penutup mata Jack dilepaskan tadi, borgol Thousand Tricks sudah terlepas, dan tidak terlihat ada bekas sisa borgol di sekitarnya. Akumulasi Mana Material yang sangat besar sering kali memberikan kemampuan aneh bagi seorang Hunter. Karena ia adalah Level 8, bukanlah hal aneh jika ia memiliki kemampuan khusus yang tidak biasa.

Mendengar pertanyaan Jack, Thousand Tricks tampak membelalakkan mata dengan ekspresi heran.

“Eh? …Kenapa?”

Semakin dilihat, wajah pria itu tampak sangat polos dan tidak memancarkan aura kekuatan sama sekali. Namun, hal itu tidak mungkin benar. Ia adalah pria yang bahkan tidak merasakan pengaruh apa pun di lingkungan yang menyedot Mana Material seperti ini. Apakah ia sangat ahli dalam menyembunyikan kekuatannya, ataukah karena perbedaan level yang terlalu jauh sehingga Jack tidak mampu merasakan apa pun?

“Berdasarkan data yang aku kumpulkan, melepaskan borgol adalah hal yang wajib dilakukan. Kecuali jika kamu memang memiliki strategi untuk sengaja membiarkan diri diserang. Namun dalam situasi sekarang, rasanya tidak ada orang bodoh yang berani menyerang—”

Tepat sekali. Sengaja membiarkan diri diserang… Jika perkataan para penjahat tadi benar tentang bagaimana mereka dihancurkan oleh Thousand Tricks, maka hal itu sangat mungkin menjadi bagian dari strateginya.

Ekspresi Grand menjadi muram. Jack juga membelalakkan matanya. Sepertinya ia memikirkan hal yang sama dengan Jack; kemungkinan bahwa mereka telah mengganggu rencana Thousand Tricks yang sengaja ingin memancing serangan.

Mungkin… apakah mereka mengganggu? Apakah dirinya sengaja mencoba memancing serangan? Thousand Tricks pasti sudah menyadari alasan mengapa Jack dan yang lainnya mencoba mendekat. Ini akan berbahaya. Thousand Tricks pasti sudah menyadari alasan Jack dan yang lain mendekat—jika dia berpikir mereka lebih menghalangi daripada membantu, dia akan membuang mereka.

“Te-tentu saja, aku juga bisa menghancurkannya sendiri kalau hanya borgol seperti ini…!!!!”

Jack menarik borgol di kedua lengannya dengan sekuat tenaga. Meskipun ia adalah Hunter Level 6, ia cukup percaya diri dengan kekuatan fisiknya. Otot dan tulangnya berderit, rasa sakit menjalar di kedua lengannya. Setelah mengerahkan seluruh tenaga selama beberapa puluh detik, rantai yang menghubungkan borgol tersebut akhirnya hancur berantakan. Tangannya terbentur ke dinding karena dorongan sisa tenaga. Sambil menahan sakit, Jack menatap ke arah Thousand Tricks.

“Ugh… Bagaimana, Thousand Tricks-san? Seperti yang kamu lihat. Jika Mana Material-ku belum terkuras, aku bisa melakukannya dengan lebih mudah.”

“…I-iya, benar juga ya…”

Meski begitu, borgol tersebut ternyata sangat kokoh. Jika sebagian besar penjahat di sini mampu menghancurkannya, maka posisi Jack dan kawan-kawan masih cukup rawan.

“Aku tidak memiliki kekuatan otot yang besar, jadi aku tidak bisa melepasnya dengan cara seperti itu. Tapi, kalau kamu memberikan sedikit waktu, aku bisa mengumpulkan data untuk membukanya. Selain itu, aku juga bisa membantu memilah beberapa orang yang layak dijadikan pion untukmu.”

Grand berbicara dengan cepat. Posisi Grand sepertinya sama dengan Jack. Bahkan mungkin lebih buruk, karena dari penampilannya, Grand bukan tipe petarung. Jika mereka tidak bisa bekerja sama dengan Thousand Tricks, akan sangat sulit untuk bertahan hidup di penjara ini.

Terakhir adalah Zack. Zack menatap Thousand Tricks dengan pandangan mengamati, namun ia tidak mengucapkan pembelaan apa pun. Kedua tangannya masih terborgol rapat tanpa ada bekas upaya untuk menghancurkannya. Jack pun tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Ia adalah pembunuh berantai pemakan manusia, namun sama sekali tidak memancarkan hawa keberadaan yang mengerikan, yang justru terasa sangat ganjil. Meski dikabarkan telah memakan lima ratus orang, di mata Jack ia tidak terlihat seperti orang yang sangat kuat.

“Untuk saat ini, aku ingin mengetahui orang-orang seperti apa yang ada di penjara ini…”

“Kalau begitu, langkah pertama adalah mengonfirmasi faksi-faksi yang ada di sini… hehe.”

Layaknya sebagai seorang Level 8, ia langsung penuh semangat dari awal. Ksatria yang mengawal tadi mengatakan bahwa Thousand Tricks datang ke sini atas kemauannya sendiri, mungkinkah ada kaitannya dengan hal ini? Prioritas pertama adalah memahami aturan main di dalam penjara ini.

“Bos Besar, aku memiliki keahlian dalam melakukan investigasi semacam itu. Aku bermaksud untuk segera mulai mencari data.”

“Eh? …Ah, hu-uh. Tentu saja, jelas aku bakal terbantu… Tapi, ‘Bos Besar’ itu siapa?”

“Bos Besar adalah Yang Mulia-ku. Jika dibandingkan denganku yang tertangkap karena kecerobohan dan gagal membela diri, Kamu yang datang ke sini atas kemauan sendiri sangat layak disebut sebagai Bos Besar. Kuharap kamu mengizinkanku untuk terus memanggilmu begitu.”

“Ah, uh-uh… Kalau memang maumu gitu, aku sih terserah.”

Cih… mencari muka, ya? Namun Jack tahu pasti. Sorot mata pria berkacamata itu bukanlah sorot mata orang yang penurut seperti perkataannya. Itu adalah sorot mata binatang buas yang sedang menunggu kesempatan untuk menerkam. Jika dipikirkan kembali, kata-katanya yang sopan itu pun terdengar seperti penghinaan yang terselubung.

Namun bagi Jack, itu adalah hal yang menguntungkan. Jika ingin mengambil hati Thousand Tricks, memiliki rekan yang tidak kompeten akan meningkatkan nilai Jack di matanya. Merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Level 8 tanpa peluang menang adalah hal bodoh. Jack memiliki rencana yang berbeda.

“Kalau begitu, kami akan mencari ruangan yang bisa dijadikan markas. Tempat ini penuh dengan musuh. Meski kamu adalah Level 8, memiliki ruangan untuk tidur dengan aman adalah hal yang penting.”

Saat ini, hal yang terpenting adalah mendapatkan kepercayaan dan menunjukkan kegunaan Jack. Lalu, jika memungkinkan, ia akan menghasut dan mengajak pemimpinnya untuk melarikan diri bersama. Jack membalas tatapan para penghuni lain yang sedang mengamatinya, lalu ia menyeringai.

Ia akan membuat mereka menyesal karena telah mengurung Bloody Jack ini di tempat seperti ini.

WADUH, gawat. Habis ini aku harus gimana coba?

Kondisi di dalam penjara ternyata jauh lebih parah dari yang kubayangkan. Bau menyengat yang enggak ilang-ilang, terus lorongnya gelap banget. Tiap kali papasan sama orang, mau laki-laki, perempuan, tua, atau muda, semuanya enggak ada semangat hidupnya pisan. Cuma matanya doang yang memancarkan cahaya gelap. Ya ampun, emang beneran penjara buat kriminal kelas berat. Distrik Terlantar yang katanya paling berbahaya di Ibu Kota saja enggak sampai segininya.

Entah kenapa Jack dan dua orang lainnya malah jadi ikut aku. Kalau enggak ada mereka, mungkin dalam lima detik saja aku sudah “ditelanjangi” sampai habis.

Yah, tapi Jack dan kawan-kawan juga sebenarnya kriminal kelas berat sih.

Bener-bener deh, aku ‘kan cuma minta tur keliling, tapi kok malah disuruh masuk ke dalam penjara beneran begini. Aku jadi meragukan kewarasan Zinn-san si sipir itu.

Hugh bilang dia sudah mengatur sesuatu, tapi di mana? …Eh, atau jangan-jangan dia pikir karena aku Level 8, jadi bakal aman-aman saja ya?

Kalau gitu, sebenarnya siapa yang paling salah di sini?

Saat aku lagi istirahat di salah satu kamar sel, Grand yang tadi pergi cari info akhirnya balik.

Dia ini tipe pria halus yang pakai kacamata dengan tatapan tajam. Enggak punya aura kasar seperti Jack, lebih mirip mafia intelek gitu. Kira-kira dia salah apa ya sampai bisa nyasar ke sini?

Borgol yang tadi ada di tangannya juga sudah lepas. Yah, kemampuan buka kunci memang bukan hal aneh buat seorang Hunter

“Bos Besar, sepertinya saat ini ada dua faksi besar di dalam penjara ini. Wilayah kekuasaan mereka terbagi jadi dua, dan hampir semua tahanan di sini bergabung ke salah satunya.”

“…Terus orang-orang yang tadi nyambut kita di depan itu siapa?” tanyaku santai.

“Mereka itu hanya keroco yang tidak keterima di faksi mana pun. Yah, dari data yang aku punya, sudah ketahuan kalau orang-orang yang mudah ciut hanya gara-gara gertakan begitu memang hanya remah-remah.”

Padahal tadi jumlah mereka banyak banget dan kelihatannya sangar… tapi ya sudahlah, mungkin bagi Grand mereka itu remah-remah, tapi buatku mereka tetap saja sosok yang harus ditakuti.

“Grand, tapi menurut dataku kita enggak boleh lengah. Berdasarkan dataku lagi, mereka itu sebenarnya cukup kuat lho.”

“!? Tapi…”

Selama ini kami memang sudah sering berantem sama kriminal Red, tapi sudah enggak terhitung berapa kali kami malah kewalahan lawan musuh yang kelihatannya lemah. Misalnya pas kita pikir musuhnya cuma sepuluh orang, eh ternyata yang muncul seratus…

Melihat Grand yang langsung terdiam, Jack malah ketawa kencang.

“Gahahaha! Benar sekali apa yang dibilang Thousand Tricks-san, Grand! Orang-orang yang tidak berguna untuk disuruh-suruh pun masih ada fungsinya. Apalagi kalau di tangan Jack yang hebat ini!”

“? Maksudnya bagaimana?”

Melihat muka Grand yang curiga, Jack langsung pamer senyum penuh percaya diri.

“Darah, coy! Aku punya kekuatan untuk menyerap Mana Material dengan cara mandi darah lawan. Itulah alasanku dijuluki The Bloody Jack! Kalau ada Mana Material, penjara remeh seperti ini sangat mudah ditembus. Sisa-sisa Mana Material di orang-orang ampas itu pastinya masih ada sedikit.”

“!? Tidak mungkin… kemampuan macam apa itu?! Dataku bahkan tidak mencatatnya! Kalau begitu, alasan dirimu ketangkap itu—”

“Ya gara-gara aku menyerap habis Mana Material hampir semua Hunter di Pepri, makanya aku jadi buronan dan berakhir ketangkap. Kupikir itu cara yang bagus untuk mengurangi saingan sekaligus menambah kekuatan sendiri.”

“Tapi itu…”

Grand menatap Jack seperti lagi lihat makhluk yang sudah enggak ketolong lagi.

…Dunia ini emang isinya macem-macem penjahat ya. Kupikir aku sudah cukup sering ketemu penjahat, tapi ternyata dunia ini emang luas banget. Terus, ya pantesan saja dia ditangkep dan dibuang ke sini. Zaman sekarang ‘kan semua negara lagi rebutan Hunter, eh dia malah bikin Hunter jadi loyo.

“Memang itu cara efektif… kalau bisa mengumpulkan Mana Material sebanyak itu, mungkin kita bisa kabur. Tapi datanya masih kurang.”

“Tidak butuh data-data segala! ‘Kan ada Thousand Tricks-san bersama kita, ingat? Kita tinggal ambil alih puncak penjara ini, lalu tinggal kabur. Sipirnya juga sedikit, kalau sudah bisa keluar dari pulau ini, kita pasti menang. Ya kan, Thosaund Tricks-san?”

Duh, orang-orang ini kok malah ngomongin rencana kabur dari penjara dengan santainya sih. Terus aku harus gimana responnya?

Pura-pura enggak denger saja kali ya?

“…Aku anggap enggak denger ya. Soalnya aku ke sini karena ada urusan saja, dan rencananya mau langsung pulang kok.”

Walaupun info yang dipengen Sitri belum kumpul semua, pokoknya aku mau pulang. Aku tuh enggak cocok tau temenan sama penjahat (ya enggak ada orang normal yang cocok sih sebenernya).

Mendengar omonganku, Jack manggut-manggut sok paham.

“Benar juga ya. Mungkin kita tidak perlu sampai ambil alih puncak penjara. Berhasil kabur dari Pulau Penjara saja sudah cukup untuk membuat nama kita semakin berbahaya. Baiklah, kami bakal mengikutimu.”

“…Uh-uh, terserah kalian saja.”

Kayaknya maksud omonganku enggak sampai sama sekali, tapi ya sudahlah, aku manggut-manggut saja. Terserah mereka mau ngapain. Yang penting aku bisa pulang dengan selamat. Kira-kira kapan ya Zinn-san mau jemput aku?

“Woi, Zack. Kau bagaimana?”

“…Aku cuma ikut arahan dari Kehendak Yang Agung. Itu saja.”

Sahut Zack pendek sambil terus ngelihatin aku. Duh, sudahlah… aku enggak mau lama-lama di sini. Tapi aku enggak tahu harus gimana. Benar-benar stuck di kondisi yang kurang enak ini.

“Omong-omong soal makanan, katanya jatah makan yang dikasih sehari sekali itu dikuasai oleh dua faksi besar—Kitsune dan Hebi. Tahanan lain tidak akan mendapatkan jatah kalau mereka tidak berbagi. Jadi bagaimana?”

Kitsune sama Hebi…? …Dua-duanya aku enggak suka.”

Kalau Hebi—maksudnya organisasi Eight-Headed Serpent, mereka itu terkenal sebagai organisasi kriminal yang suka kekerasan. Kekejaman mereka ditakuti di berbagai negara, dan anggotanya katanya sekuat Hunter level tinggi.

Kenapa aku bisa tahu? Ya soalnya dulu anggota party-ku pernah enggak sengaja gerebek markas mereka pas pemimpinnya lagi kumpul.

Kalau si Kitsune… yah, pasti bukan rubah beneran kan. Harusnya juga bukan rubah dari Lost Inn. Tapi ya pokoknya aku enggak punya info detailnya, cuma ya aku enggak suka saja. Akhir-akhir ini banyak banget urusan membingungkan yang ada hubungannya sama rubah itu…

Iya, aku masih inget kok soal kejadian Telm sama Kechachakka.

“Pernah ada urusan dengan mereka?”

“Ya enggak sampai dibilang urusan sih, cuma ya gitu deh…”

Kan yang berantem mereka si Liz dkk, bukan aku. Jadi ada kemungkinan mukaku enggak ketahuan. Lagian organisasi kriminal lain pun enggak pernah ada yang beneran aku tangani sendiri kok. Kalaupun mukaku ketahuan, itu pasti cuma kebetulan saja.

Oke, mari kita berpikir positif.

“Di bawah faksi Hebi ada Bandits Squad Barrel dan organisasi petarung lainnya. Kalau di faksi Kitsune, isinya macam-macam organisasi, termasuk penjahat yang ditangkap di Code kemarin.”

Hm-hm, Bandits Squad Barrel sama penjahat dari Code ya…”

“Kamu tahu mereka, Bos Besar?”

“Tidak, sama sekali enggak tahu.”

Sumpah, denger aja belum pernah. Saat di Code kemarin aku ‘kan enggak mau ikutan urusan sama orang-orang berbahaya. Kalau Kaizer atau Saya yang ikut ujian sertifikasi Level 9 bersamaku ada di sini, mungkin mereka tahu.

“Pokoknya kalau ingin makan harus rebutan. Oke, ayo kita hajar mereka, Thousand Tricks-san!”

“Enggak ah, aku belum laper-laper amat kok…”

“Jangan begitu dong! Ayolah, kita harus maju!”

Aduh, nyawaku tuh jauh lebih penting daripada urusan perut tahu! Apalagi sebentar lagi harusnya Zinn-san jemput aku.

Saat dipaksa jalan sama Jack, aku cuma bisa teriak dalam hati.

Sebenernya kenapa sih nasibku bisa jadi begini?

“SEBAB itulah, di wilayah kekuasaan saya sedang dibudidayakan tanaman yang unik—saya rasa, bahkan di Yggdra pun tidak ada. Saya sangat ingin Putri Selene melihatnya langsung. Kebetulan malam ini saya mengadakan jamuan makan malam, jika Anda berkenan hadir.”

Di ruang tamu yang telah disiapkan di Clan House First Steps, seorang bangsawan Zebrudia menawarkan undangan tersebut dengan senyum cerah yang tersungging di wajahnya.

Dunia manusia ternyata penuh dengan hal-hal yang menarik. Sejak awal, Selene memang memiliki ketertarikan terhadap manusia. Oleh karena itu, berbagai tawaran yang datang silih berganti demi membangun hubungan diplomatik biasanya merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh Selene.

Tentu saja, ada batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dikompromikan karena faktor ras. Secara biologis, ras Spirit Noble tidak suka dengan produk berbahan logam dan harus menghindari mengonsumsi daging. Namun, untuk tawaran di luar hal tersebut, Selene sebisa mungkin berusaha untuk memenuhinya.

Jika Selene bisa menjalin hubungan baik dengan manusia, rasa benci terhadap manusia yang mendarah daging di kalangan Spirit Noble diharapkan bisa melunak. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak baik bagi masa depan kaumnya.

“Itu adalah tawaran yang sangat luar biasa, Manusia. Namun, sayangnya malam ini ada tempat yang harus saya kunjungi—”

“Saya juga telah menyiapkan Firmamental Blossom khusus untuk Putri Selene. Ini adalah benda langka dari Treasure Vault, Prism Garden yang ditemukan oleh sosok ternama yang Anda kenal, Thousand Tricks. Keberhasilannya membawa pulang bunga itu jugalah yang menjadi bukti penaklukan Prism Garden!”

“Begitu rupanya… itu terdengar sangat menarik.”

Selene adalah sosok yang sangat sibuk. Permintaan pertemuan dari para bangsawan, pedagang Zebrudia, hingga Asosiasi Penjelajahan terus berdatangan tanpa henti.

Meskipun restorasi Yggdra telah ia percayakan kepada Ruine, Selene tidak bisa membiarkan urusan itu terbengkalai begitu saja. Namun, ia ingat bahwa jadwalnya untuk malam ini seharusnya kosong.

“Baiklah. Saya akan hadir. Omong-omong, apakah mengundang orang ke perjamuan di hari yang sama adalah hal yang lumrah di kalangan manusia?”

“Yah, selama waktunya tepat, tentu saja bisa.”

Kemarin pun ia menerima undangan makan malam di waktu yang mendadak seperti ini, sehingga ia tidak sempat mengunjungi Krai.

Sihir teleportasi ruang adalah sihir tingkat tinggi bahkan bagi High Spirit Noble seperti Selene. Sihir ini mengonsumsi mana dalam jumlah besar, sehingga penentuannya harus tepat. Selain itu, sihir ini tidak bisa digunakan dua kali berturut-turut, makanya akan memakan waktu lama untuk bisa kembali.

Sepertinya hari ini pun aku tidak bisa mengunjungi tempat Krai berada…

Namun, seharusnya tidak ada masalah. Perlakuan terhadap Krai selama masa penahanan, di mata Selene, sama sekali tidak terlihat seperti perlakuan terhadap seorang kriminal. Tidak diragukan lagi bahwa Franz sedang berusaha keras memenuhi tuntutan Selene sebisa mungkin.

Tentu saja, perlakuan itu belum sepenuhnya memuaskan Selene, tapi hal itu tidak bisa dihindari. Kebudayaan manusia dan kebudayaan Yggdra berbeda, begitu pula dengan perbedaan antara manusia dan Spirit Noble.

Jadwal Selene hari ini dan besok sudah terisi penuh. Hal semacam ini tidak mungkin terjadi di Yggdra. Begitu hubungan diplomatik resmi dimulai, mungkin ia akan memiliki waktu luang, namun ia juga harus kembali ke Yggdra secara berkala agar kaumnya tidak mengkhawatirkannya.

Bangsawan tersebut meninggalkan ruangan. Di waktu senggang sebelum pertemuan berikutnya, Selene menyeduh teh yang ia bawa dari Yggdra. Saat ia sedang menyesapnya, Sitri masuk ke dalam ruangan.

Sitri Smart. Dia adalah Alchemist dari Grieving Souls yang banyak membantu Selene sejak ia tiba di Ibu Kota.

“Wah, Sitri. Kamu datang untuk bermain? Kebetulan aku baru saja menyeduh teh. Masih ada waktu sebelum pertemuanku berikutnya.”

Terus-menerus membahas urusan serius hanya akan membuat lelah. Menanggapi tawaran Selene, Sitri menjawab dengan senyum lebar.

“Tidak… sebenarnya saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi bermain ke Pulau Penjara Eastseal—”

“!! Itu bagus sekali. Sebenarnya aku juga berencana pergi ke sana hari ini, tapi tiba-tiba ada urusan mendesak yang tidak bisa aku tinggalkan.”

Selene sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan jamuan makan malam, namun ia penasaran dengan Firmamental Blossom. Ia tetap berniat pergi ke Pulau Penjara, namun itu bisa dilakukan nanti saat jadwalnya sudah kosong dan ia bisa lebih santai.

Mendengar perkataan Selene, Sitri bertanya dengan wajah heran.

“Eh? Kalau boleh tahu, bagaimana rencanamu untuk pergi ke sana??”

“Tentu saja dengan sihir teleportasi. Aku harus pastikan kalau manusia tidak memperlakukan Krai dengan buruk… tunggu sebentar,” Selene memejamkan mata dan memusatkan konsentrasinya. “Karena lokasinya hampir tidak berpindah sejak tadi pagi, kemungkinan besar dia sudah tiba di Pulau Penjara. Sebenarnya aku ingin menemuinya kemarin untuk memastikan berbagai hal.”

“…Teleportasi itu membutuhkan penentuan koordinat, bukan? Mungkinkah kamu tahu lokasi Krai-san?”

Teleportasi adalah sihir tingkat besar. Bahkan di kalangan High Spirit Noble pun hanya segelintir yang bisa menggunakannya. Sihir ini sangat sulit karena pengguna harus menentukan lokasi tujuan secara presisi. Wajar jika manusia harus mengaktifkan lingkaran sihir berskala besar untuk melakukannya, karena jika hanya berpindah ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, mereka tidak perlu menghitung ulang koordinat teleportasi yang baru.

Menanggapi pertanyaan Sitri yang sangat logis itu, Selene menjawab dengan senyum lebar.

“Tentu saja aku tahu. Karena aku sudah menempelkan Miles pada Krai.”

Antara Selene dan Miles, salah satu roh suci tingkat tertinggi pelindung Yggdra yang menguasai alam liar, terdapat ikatan tak kasat mata melalui sihir kontrak. Selene mungkin tidak tahu di mana keberadaan Krai, tapi ia bisa mengetahui lokasi Miles dengan sangat jelas. Ia hanya perlu menteleportasikan dirinya ke titik di mana Miles berada.

“Begitu rupanya… namun, Pulau Penjara seharusnya menjadi tempat yang menyiksa bagi para roh…”

“Dia memiliki hutang budi karena telah menyelamatkan Yggdra. Lagipula, Miles bukanlah roh biasa.”

Alasan mengapa roh tingkat tinggi biasanya hidup di tempat yang kaya akan alam adalah karena mereka bertahan hidup dengan menyerap kekuatan alam, yaitu mana di atmosfer dan Mana Material. Saat berada di Ibu Kota yang jauh dari alam, Selene-lah yang menyuplai kekuatan itu. Namun sekarang, karena Selene berada jauh darinya, hal itu tidak bisa dilakukan.

Meski begitu, tidak mengubah fakta bahwa Miles adalah Roh Agung luar biasa yang memiliki kekuatan besar, bahkan pernah sampai pada tahap kehilangan kesadaran dirinya karena saking banyaknya kekuatan yang ia kumpulkan.

Dibandingkan roh lain, Miles memiliki kehendak yang cukup kuat. Jika terjadi sesuatu di Pulau Penjara, ia pasti akan mendukung Krai dengan menyesuaikan diri pada situasi yang ada.

Sitri tampak menunjukkan ekspresi berpikir mendengar jawaban Selene yang penuh percaya diri, namun ia segera mengangguk mantap dan berkata sambil tersenyum.

“Aku mengerti… terima kasih sudah mendukung Krai-san. Omong-omong, ada satu hal yang ingin aku minta padamu—”

TERNYATA di Pulau Penjara yang enggak memanusiakan manusia ini pun, jatah makan tetap dikasih.

Lokasi pembagian makanannya ada di tengah-tengah pulau. Di sebuah lapangan berbatu, ada kotak logam besar yang dijaga ketat sama gerombolan pria bermata tajam. Tatapan mereka beda jauh sama narapidana loyo yang aku temui sebelumnya.

Di sekeliling mereka, ada orang-orang bermuka suram dan lemah yang menatap dari jauh dengan tatapan penuh dendam. Hmm, kayaknya di dunia kriminal pun ada kasta-kastanya ya.

Grand yang jadi pemanduku mulai kasih penjelasan.

“Berdasarkan dataku, makanan dikirim lewat kotak itu. Katanya kotak itu terhubung dengan dunia luar.”

“Lho, itu ‘kan Wonder Bag. Sampai pakai relik segala ya…”

Sayang banget, padahal barang mahal.

Wonder Bag itu relik yang sepasang; apa yang dimasukkan ke satu tas bisa diambil dari tas pasangannya. Ini adalah barang praktis yang setara sama Magic Bag. Harganya memang lebih murah dari Magic Bag, tapi tetap saja barang mewah.

Tas ini punya batasan: enggak bisa buat masukin makhluk hidup, sama entah kenapa enggak bisa dipakai kalau lokasinya di antara satu kota dengan kota lain. Kalau enggak ada batasan aneh itu, pasti harganya jauh lebih mahal lagi (para peneliti relik mikirnya sih fiturnya sengaja dibatasi biar enggak disalahgunakan buat kejahatan).

“Makanan dimasukkan ke kotak itu secara berkala. Menurut data yang aku kumpulkan, faksi Hebi dan Kitsune bagi dua jatahnya, lalu dibagikan ke anggota masing-masing… Tapi, jatahnya pun hanya standar minimalnya… Nah, yang di sana itu anggota faksi Hebi.”

Bener-bener lingkungan yang ampas ya. Jauh lebih ngeri hukum rimbanya dibanding dunia luar.

Yah, sehebat apa pun Hunter yang sudah menyerap Mana Material, kalau enggak makan ya mati juga. Mungkin pihak penjara sengaja kasih makan dikit banget biar para kriminal ini tetap lemes.

“Katanya, mereka yang tidak bergabung ke dua faksi itu harus tukar tenaga jadi tukang bersih-bersih atau kerja serabutan di penjara demi dapat makan. Jadi, semua urusan internal penjara, termasuk hal-hal remeh, digerakkan oleh tangan narapidana itu sendiri. Hmm… sistem yang menarik.”

Menarik apanya? Buat orang lemah sepertiku, ini mah namanya neraka!

“Dua faksi itu mulai menguasai kotak makan gara-gara dulu pernah ada yang iseng memasukkan kotoran ke dalamnya, sampai jatah makan terhenti total selama tiga hari penuh. Padahal sudah tahu tindakan itu tidak ada gunanya, tapi ya memang yang namanya orang bodoh itu ada di mana-mana.”

Kekaisarannya aneh, narapidananya juga lebih aneh lagi. Sitri kalau denger cerita ini pasti bakal ilfeel berat deh.

Para pria yang menjaga kotak makan itu masang muka sangar buat menggertak sekeliling. Biarpun enggak bawa senjata, tapi otot-otot mereka yang ngeri itu sudah cukup buat membayangkan kalau mereka aslinya penjahat kelas kakap yang bisa mukul orang sampai mati pakai tangan kosong.

Mereka enggak bawa senjata, tapi ya aku juga enggak bawa apa-apa sih… Eh, tunggu dulu?

Oh iya! Mending aku minta makan dengan imbalan kerja serabutan atau bersih-bersih saja kali ya?

Aku ogah banget jadi anggota faksi mana pun, tapi kalau cuma jadi tukang sapu, harusnya tahanan lain enggak bakal nyerang aku, kan? Lagian tur penjara ini paling enggak bakal lama-lama amat.

Akhirnya, aku kasih usul ke Jack yang lagi senyum sambil jilat bibir ke arah para preman itu, dan ke Grand yang lagi sedekap.

“Kalian berdua suka bersih-bersih enggak?”

“!! Tentu saja. Hehe… begini-begini, aku orangnya resik lho.”

“Kalau aku… prinsipnya tidak mau tangan kotor, tapi dalam situasi begini, sepertinya aku tidak punya pilihan lain ya.”

Sepertinya mereka berdua setuju sama usulku. Satu-satunya masalah cuma si Zack pemakan manusia yang dari tadi diem saja—

“Y-ya sudah. Karena tanganmu masih diborgol, mau gimana lagi ya.”

Lagian selera makan Zack “itu”-nya manusia, mungkin dia enggak terlalu nafsu sama jatah makan biasa. Dunia ini padahal punya banyak makanan enak yang bukan manusia lho, pokoknya aku harus hati-hati jangan sampai dimakan sama Zack.

Nanti kalau sudah keluar, aku mau usul ke Zinn-san biar dikasih makanan yang enakan dikit ah.

Nah, terus kalau mau nawarin jasa bersih-bersih demi jatah makan, atau kerja serabutan apa pun lah, aku harus ngomong ke siapa ya?

Orang-orang yang mengerubungi kotak itu, mukanya enggak ada yang kelihatan bisa diajak ngobrol baik-baik.

Pas aku lagi ragu-ragu mau maju, Jack sama Grand malah duluan ke depan.

“Hehe… serahkan saja pada kami, Thousand Tricks-san. Kamu tidak perlu turun tangan untuk urusan begini. Ini bagian kami.”

“…Yah, omongan orang ini ada benarnya juga. Ada data yang menyebutkan kalau semuanya akan lancar kalau Bos Besar-nya cukup duduk manis dengan tenang di atas.”

Wuih… kriminal-kriminal ini bisa diandalkan juga ya. Sebenernya aku merasa agak “kalah” sih karena harus bergantung sama mereka, tapi ya sudahlah, demi dapet jatah bersih-bersih ini.

Aku pun mundur selangkah.

Jack jalan mendekat ke kotak sambil membunyikan buku-buku jarinya. Pas gerombolan preman itu mulai mengepung dan melotot, Jack langsung menggertak kencang.

“Kalau kalian masih sayang nyawa, minggir sana, kroco! Mulai sekarang, urusan makanan bakal kami yang pegang!”

“…Ah.”

!? Bukan gitu maksudku! Aduh, salah pahamnya kebangetan ini mah!

“Sepertinya ada pendatang baru yang sangat bersemangat. Mari kita lihat sebentar—”

Salah satu pria yang berkumpul di sana—seorang pria dengan perawakan yang sangat besar, mendekat ke arah Jack dan tanpa basa-basi langsung menghantamkan tinjunya ke perut Jack.

Gerakannya sangat alami. Diiringi suara hantaman yang berat, tubuh Jack menekuk seketika.

“Ugh… Hah… Haah…”

Namun, Jack tidak tumbang.

Tangannya terayun lebar, dan ujung jarinya yang meruncing tajam melesat ke arah wajah pria yang masih menyeringai sambil membiarkan tinjunya tertanam di perut Jack. Pria itu segera melangkah mundur dan melentingkan tubuh bagian atasnya untuk menghindar, namun sepertinya serangan itu sempat menyerempetnya sedikit, hingga menyisakan garis tipis berwarna merah di wajahnya.

Jack yang menekan perutnya sambil mengucurkan keringat dingin menatap tajam pria itu.

“Ugh… Huft, huft… Sialan. Ternyata hanya segini kemampuanku saat Mana Material sedang terkuras. Tapi, tamatlah riwayatmu.”

“Apa…?”

Meski baru saja menerima serangan berat, Jack justru menyunggingkan senyuman. Dengan tangan yang gemetar, Jack mengusapkan noda darah yang menempel di ujung kuku tajamnya ke pipinya sendiri.

Seketika itu juga—ekspresi pria yang sedang menatap Jack berubah dari penuh keraguan menjadi terkejut luar biasa.

“Ah… Aku merasakannya… Aku merasakan aliran Mana Material yang tersisa di tubuhmu—Kekuatanku sedang meluap!”

“!? …Orang ini—”

Dengan urat yang menonjol di dahi, pria itu mencoba menerjang Jack. Namun, Jack menangkis tangan yang terulur itu dengan telapak tangannya sendiri.

Terjadi adu kekuatan dari depan. Jika dibandingkan dengan lawannya yang memiliki tinggi hampir dua meter, Jack lebih pendek sekitar satu kepala. Namun, Jack tidak bergeming sedikit pun. Sebaliknya, ia justru perlahan-lahan mendorong pria itu mundur.

“Mustahil. Tekanan orang ini—!”

“Jangan meremehkan Bloody Jack ini.”

Sepertinya klaimnya bahwa ia bisa merebut Mana Material dengan membasuh diri menggunakan darah lawan adalah fakta. Meskipun sulit dipahami logikanya, namun orang ini benar-benar individu yang sangat berbahaya.

Setelah memukul mundur pria tersebut, Jack melakukan gerakan berputar dan menyerang anggota faksi Hebi lainnya yang sedang mengepung mereka.

Darah segar memercik. Lawannya segera mencoba menahan gerakan Jack, namun kuku Jack yang setajam pisau bukanlah sesuatu yang bisa ditangkis dengan pakaian tipis. Jumlah darahnya sendiri sebenarnya tidak seberapa, bagi mereka yang terbiasa hidup di dunia kekerasan, luka seperti itu bahkan belum bisa disebut sebagai cedera.

Namun, suara tawa Jack yang penuh gairah telah mengubah atmosfer tempat itu.

“Hahahahahahaha! Kekuatan… Kekuatanku meluap-luap! Memang beda rasanya bertarung dengan anggota Hebi, tidak seperti para Hunter murahan di Pepri itu!”

Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi apa si Jack ini sebenarnya emang orang yang berbahaya ya?

Melihat emosi Jack yang tak stabil begitu, anggota faksi Hebi pun mulai jaga jarak. Biarpun niat membunuhnya meluap-luap, mereka tetap terlihat tenang.

Sungguh, sebagai kelompok petarung sejati yang biasa mangsa Hunter, mereka jauh lebih terbiasa dalam urusan berantem antarmanusia dibanding Jack.

Lagian, teknik jadi kuat gara-gara kena darah itu pasti bakal langsung ketahuan sih… Namanya saja Bloody Jack.

Tiba-tiba, Jack teriak kencang sampai suaranya menggema ke seluruh penjuru penjara.

“Dengar baik-baik, aku akan bilang sekali lagi. Aku tidak takut pada Kitsune ataupun Hebi. Mulai sekarang, sudah diputuskan jika pengurusan makanan di penjara ini bakal ditangani oleh Thousand Tricks-san, sang kriminal Red dan mantan hunter Level 8!”

“!? Thousand Tricks, katamu?!”

Para petarung faksi Hebi langsung heboh. Muka mereka sampai mengkerut karena marah.

Padahal pas berantem lawan Jack tadi, mereka enggak sampai semarah ini lho—

Lagian, sejak kapan hal itu diputuskan? Niatku ‘kan cuma mau bantuin bersih-bersih penjara biar dapet makan.

Tapi sebelum aku sempat protes, Grand langsung menyambung omongan Jack. Dia membenarkan posisi kacamatanya, terus bilang pakai suara yang lantang.

Hmph… Tidak perlu lihat data lagi. Perbedaan kelas di antara kita sudah jelas. Thousand Tricks baru saja sampai di Pulau Penjara hari ini, jadi kalian yang sudah dikurung lama di sini tidak punya peluang untuk menang. Apalagi jika kemampuan kalian cuma sebatas membuat Jack kerepotan. Kalau tidak mau disapu bersih, lebih baik menyerah saja. Bos Besar bilang beliau akan menerima kalian dengan hati lapang jika kalian mau tunduk di bawah kekuasaan kami sekarang.”

“!? Enggak, aku enggak bilang gitu, lho!?”

Kekuasaan militer apaan coba? Aku enggak pernah ngomong begituan, kan?

Rencananya ‘kan aku mau langsung pulang setelah tur penjara ini selesai, tapi punya pengikut secara sepihak gara-gara omongan yang enggak pernah kuucapkan itu rasanya ngawur banget.

Lagi pula, apa sih maksudnya ‘Bos Besar’ ini? Dia pakai kata itu tanpa dosa sampai aku telat buat nyanggahnya. Tapi biarpun aku sudah panik begitu, Grand tak goyah sedikit pun.

Dengan gaya yang sok keren, dia benerin kacamatanya lagi, terus natap narapidana di sekeliling yang lagi heboh lihat keributan antara faksi Hebi dan pendatang baru.

“Bos Besar bilang beliau akan buang bawahan yang lemah. Tapi tenang saja, di sini aku janji akan memakai dataku untuk meyakinkan Bos Besar soal kegunaan kalian semua. Pilihlah, apa kalian mau nunggu mati dengan pasrah saja, atau mau mencoba sukses sekali lagi di bawah naungan Bos Besar?”

Mendengar omongan Grand yang berapi-api itu, para narapidana yang kurus kering mulai saling lirik.

Duh, aku tuh enggak butuh bawahan satu pun tahu! Aku benci banget sama yang namanya penjahat. Mau itu bajak laut, perompak, bandit gunung, sampai bandit hutan pun aku enggak suka.

Tanpa sadar, aku malah keceplosan ngomongin apa yang kupikirkan.

“Enggak, aku tuh mau cepet-cepet pergi dari sini—”

“Kalian dengar itu?! Bos Besar bilang beliau akan kabur dari Pulau Penjara ini! Apa kalian mau mati membusuk di tempat yang menyedot kekuatan cuma dengan berdiam diri ini?! Tapi ya—kami tidak memaksa. Kami tak butuh orang yang bahkan tidak berani memutuskan apa pun pakai kehendak sendiri!”

Bentar, bentar, bentar! Aku emang mau pergi, tapi kalian ‘kan tetep di dalem Pulau Penjara ini! Aku enggak tahu dan enggak mau tahu sampai kapan kalian bakal di sini, tapi intinya yang bisa langsung pergi itu cuma aku yang statusnya cuma pengunjung!

Tapi, mengabaikanku yang cuma bisa melongo kebingungan, pembicaraannya malah jalan sendiri secara sepihak.

Jack menjilat ujung jarinya yang ada noda darah, terus kasih senyum sinis ke anggota faksi Hebi.

“Kuku… Bukannya lebih baik buat kalian pikirkan posisi kalian sekarang? Atau mau… mati di sini saja?”

Suasana mendadak jadi tegang. Ini sih sudah pasti yang namanya niat membunuh. Gara-gara intimidasi Jack, anggota faksi Hebi mengertakkan gigi terus melirik ke arahku.

Tatapan mereka isinya emosi negatif semua; ada niat membunuh, kebencian, dan sedikit rasa takut. Padahal ya, aku tetep saja enggak kenal sama sekali sama muka mereka.

Pria yang tadi mukul perut Jack dan kelihatannya pemimpin mereka, cuma mengayunkan tangan tanpa bilang apa-apa. Dengan isyarat itu saja, anggota faksi Hebi langsung menjauh tanpa suara, seperti air laut yang surut.

Bener-bener kendali yang ketat lewat kekuatan. Mereka enggak teriak-teriak atau asal nyerang—justru itu yang bikin ngeri. Mereka bukan binatang buas yang cuma modal otot dan emosi. Mereka itu kelompok kekerasan terorganisir yang dulu pernah bikin Zebrudia pusing tujuh keliling.

Kayaknya aku emang enggak usah masuk ke dalem Pulau Penjara ini deh. Harusnya aku enggak tergoda sama rayuan Sitri.

Jack buka kotak besar itu. Isinya kebagi jadi beberapa bagian. Ada area daging, sayuran, bumbu-bumbu, sampai jatah makanan padat yang nutrisinya tinggi tapi rasanya ampas parah. Katanya, makanan itu baru bakal kepikiran buat dimakan saat seorang Hunter cuma punya pilihan: mau mati kelaparan atau makan benda itu.

Bahkan muka Jack pun sampai berkedut pas lihat itu.

Uwah… Kejam sekali Zebrudia. Benar-benar tidak manusiawi makanan ini.”

“Hanya segini ya. Biarpun jatah ini diberikan beberapa kali sehari, jumlahnya tidak akan cukup untuk semua napi di sini. Mereka sengaja membuat tahanan bertarung satu sama lain… yang merancang penjara ini kepribadiannya sungguh unik.”

Para narapidana kurus yang dari tadi ngelihatin dari jauh sekarang natap kami pakai mata yang kelaparan. Beda sama faksi Hebi, jumlah kami bareng Zack pun cuma bertiga (jelas aku enggak dihitung), mungkin mereka mikir apa bisa direbut saja ya jatah itu.

Biarpun mereka lemes, tapi jumlahnya banyak banget. Kalau dikepung terus diserang, aku yang enggak bawa Safe Ring ini pasti langsung tamat dalam sekejap.

“Bos Besar, makanan sudah kita amankan. Kalau kita pakai ini untuk alat negosiasi, akan muncul orang yang ingin bergabung dengan kita.”

“…Enggak, ambil saja makanan seperlunya, sisanya biarkan saja di situ.”

“Yang benar saja…”

Jack teriak kaget, tapi ya aku emang enggak butuh faksi-faksian. Malah aku berharap faksi begituan enggak pernah ada. Seumur hidup, aku enggak pernah pengen punya faksi sendiri kok.

Yang kupikirin sekarang cuma satu, kapan ya Zinn-san bakal keluarin aku dari sini?

Mendengar omonganku, Grand menundukkan kepalanya dengan sopan.

“…Sesuai kehendah Anda, Bos Besar.”

“!? Woi, serius ini?! Padahal kita sudah capek-capek mengusir orang-orang Hebi tadi.”

“…………”

Grand natap balik Jack tanpa suara. Pertukaran kode mereka cuma sedetik doang.

Cih. Ya sudah. Nanti kalau butuh lagi tinggal ke sini lagi saja.”

“Begitu lebih baik. Percayalah pada dataku.”

Wah, Jack mau ngalah ya… Rasanya kaget juga lihat kriminal Red yang tadi sesumbar sambil mandi darah di depan faksi Hebi, sekarang malah nurut sama omongan Grand yang kelihatan seperti cowok lemah. Tapi ya sudahlah.

Mungkin mereka punya maksud tertentu, tapi setidaknya aku bisa terhindar dari pengeroyokan orang-orang di sini.

Grand memanggil Zack yang dari tadi cuma melengos enggak peduli.

“Zack, kau juga setuju, kan?”

“Aku hanya ikut arahan dari Kehendak Yang Agung.”

“…Omonganmu itu-itu terus ya.” Jack bilang begitu dengan nada bosan.

Tapi ya menurut dataku, di dunia ini emang banyak orang aneh sih. Aku enggak tahu soal Grand, tapi kalau si Jack sih sudah jelas-jelas orang nyeleneh di mata masyarakat umum.

DI Pulau Penjara ini, aturan mendapatkan kamar sel adalah siapa cepat, dia dapat. Tentu saja, kamar yang luas dan nyaman sudah dikuasai oleh kelompok besar sebagai wilayah kekuasaan mereka, sementara beberapa narapidana bahkan tidak mendapatkan ruangan untuk tidur.

Bisa dibilang, Pulau Penjara ini menerapkan hukum rimba yang jauh lebih kejam daripada dunia luar. Kondisinya lebih mirip pembuangan daripada sekadar pemenjaraan. Dari sini terlihat betapa kerasnya Kekaisaran memperlakukan para kriminal.

Dalam hal ini, Jack dan rekan-rekannya bisa dibilang cukup beruntung. Di Pulau Penjara, di mana kecepatan terkurasnya Mana Material jauh lebih tinggi daripada di luar, mereka yang baru saja masuk memiliki keuntungan yang sangat besar. Jack menyadari hal itu sepenuhnya saat berhadapan dengan anggota faksi Hebi tadi.

Di sebuah ruangan yang terletak hampir tepat di tengah wilayah faksi Hebi dan Kitsune, Jack sedang berdiskusi dengan Grand. Mereka mendapatkan ruangan itu setelah mengusir penghuni sebelumnya (atau lebih tepatnya, orang itu langsung pergi saat menyadari dia tidak punya peluang menang melawan kelompok Jack; sepertinya hal seperti ini sudah biasa terjadi).

“Dengar, Grand. Kenapa tadi kita malah melepaskan jatah makanan itu? Kalau kita pegang makanan itu, bukannya jauh lebih mudah untuk merekrut pengikut?”

Tujuan Jack adalah membentuk kekuatan baru yang setara dengan faksi Hebi dan Kitsune, menguasai Pulau Penjara, dan akhirnya melarikan diri dari pulau ini. Untuk mencapai itu, dia perlu mengumpulkan orang sebanyak mungkin. Itulah alasan mengapa dia berani mengambil risiko memancing keributan dengan faksi Hebi demi merebut jatah makanan.

Namun, meskipun Jack sudah mengambil risiko kekuatannya terbongkar demi mendapatkan logistik tersebut, Thousand Tricks justru melepaskannya begitu saja dengan mudah. Memang tadi mereka menang, tapi kemampuan anggota faksi Hebi bukanlah hal yang bisa diremehkan. Lawan memiliki keunggulan dalam jumlah, dan belum tentu mereka akan menang lagi di pertemuan berikutnya.

Meskipun tadi Jack tetap bersikap tenang, sebenarnya kekuatannya tidak akan berguna jika berhadapan dengan lawan yang memiliki selisih kemampuan sangat jauh hingga ia bahkan tidak bisa melukai mereka sedikit pun. Jack tidak bisa menguasai penjara ini hanya dengan kekuatannya sendiri, itulah sebabnya ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Grand.

“Seharusnya kau menanyakan hal itu langsung ke Bos Besar.”

“Mana mungkin aku berani! Lagipula kau tadi juga tidak mengajukan keberatan, kan!”

Saat ini, Thousand Tricks sedang berada di ruangan bagian dalam. Meski terhalang satu pintu, Jack yakin suaranya pasti terdengar jelas. Namun, setidaknya biarkan dia menyampaikan keluhannya. Jack mendukung Thousand Tricks bukan karena rasa setia, melainkan karena mencari keuntungan. Jika tidak, lebih baik dia bergabung dengan faksi Hebi atau Kitsune sejak awal.

“Tenanglah, Jack. Pemikiranmu sedikit terlalu dangkal. Berdasarkan dataku, melepaskan jatah makanan itu adalah langkah yang cerdik. Karena itulah aku mengikutinya.”

“Apa?”

“Justru akan menjadi masalah besar jika kita terus menguasai kotak makanan itu. Jack, apa kau yakin sanggup melindungi kotak makanan itu dari serangan faksi Hebi dan Kitsune secara terus-menerus?”

“Itu…”

Sejujurnya, anggota faksi Hebi tadi jauh lebih kuat dari perkiraan Jack. Dia menang hanya karena berhasil menyerang duluan dan memberikan luka, tapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka semua menyerang secara bersamaan. Terlebih lagi, anggota faksi Hebi pasti tidak hanya segelintir orang itu saja. Jika ditambah dengan keberadaan faksi Kitsune yang setingkat dengan mereka, hampir mustahil bagi Jack untuk bertahan. Apalagi barang yang mereka kuasai adalah makanan, sesuatu yang sangat krusial untuk bertahan hidup. Lawan pasti akan datang untuk membunuh dengan cara apa pun.

Grand menjelaskan seolah sedang menasihati.

“Dengar, meskipun hanya sekali, kita sudah berhasil meningkatkan reputasi karena mengusir faksi Hebi. Tapi, jika kita kalah di pertemuan berikutnya, reputasi kita akan jatuh. Kalau reputasi jatuh, merekrut orang pun akan sulit. Jadi, berhenti di saat yang tepat adalah keputusan yang benar. Namun, jika tadi Bos Besar memerintahkan untuk bertahan, aku tetap akan melaksanakan perintah itu dengan cara apa pun—aku merasa sangat terbantu karena dia sendiri yang mengusulkan untuk melepaskan makanan itu.”

“Begitu ya…”

Thousand Tricks adalah mantan Hunter Level 8, dia mungkin tidak akan kalah melawan sebagian besar lawan. Namun, perbedaan jumlah dan kekuatan organisasi tetap tidak bisa dianggap remeh. Terlebih lagi, fakta bahwa dia mengambil keputusan untuk “mengerem” seolah-olah menunjukkan kemampuannya sendiri tidak setinggi itu. Apakah Jack benar-benar sudah tepat mengikuti Thousand Tricks yang mungkin tidak sekuat dugaannya?

Seolah menyadari keraguan Jack, Grand mengangkat bahu dan berkata.

“Yah, lihat saja dulu perkembangannya. Sejujurnya, dalam dataku saat ini tidak ada informasi mengenai si Bos Besar. Kita bisa mengambil kesimpulan nanti setelah nilai diri kita sendiri meningkat. Aku juga berniat untuk mengerahkan seluruh kemampuanku.”

“Memangnya kau tidak masalah dengan itu? Bukankah lebih baik jika kau menunjukkan kemampuanmu di organisasi yang sudah besar?”

“Justru karena itulah aku di sini. Lagipula, jika aku bergabung dengan organisasi besar, mereka tidak akan memberikan wewenang penuh padaku. Kalau mau melakukan sesuatu, lebih baik kita membangunnya dari nol sampai sukses, bukan?”

Jack tidak tahu banyak tentang Grand. Namun, melihat orang ini dikirim ke sini sendirian padahal kemampuan bertarungnya terlihat rendah, pasti ada alasan kuat di baliknya.

“Grand, sebenarnya apa yang kau perbuat sampai bisa berakhir di sini?”

“…Ah. Biar aku luruskan kesalahpahamanmu. Aku tidak melakukan kejahatan seperti orang-orang di sini.” Grand menghela napas panjang, lalu melanjutkan. “Aku hanya bergabung dengan pasukan revolusi. Aku ingin membuktikan kegunaan dari data-data yang kukumpulkan.”

Pasukan revolusi, ya. Pepri memang damai, tapi di negara lain ada yang sedang berperang atau menderita di bawah rezim diktator.

“Apa kalian kalah?”

“Tidak… Kami menang. Namun, setelah itu aku mencoba membentuk pasukan revolusi sekali lagi, lalu aku tertangkap.”

“Hah??? …Maaf, aku tidak paham maksudmu. Revolusinya ‘kan sukses?”

Memimpin revolusi sampai sukses seharusnya membuat seseorang menjadi pahlawan. Setidaknya sebagai tokoh inti, dia bisa menikmati kemakmuran. Lantas, kenapa dia malah mencoba membentuk pasukan revolusi lagi? Melihat Jack yang melongo keheranan, Grand hanya mengangkat bahu.

“Yah, kalau cuma berhasil satu kali, bisa saja itu cuma kebetulan, kan? Untuk membuktikan keakuratan dataku, aku harus mencobanya sekali lagi dengan bergabung di pihak yang berbeda.”

Grand mengatakannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Orang ini… ternyata tahanan politik.

Malah dia jauh lebih jahat dan berbahaya daripada Jack yang hanya menghabisi semu para Hunter di Pepri. Jack sulit memahami kenapa dia dan Grand bisa dimasukkan ke penjara yang sama. Padahal Jack merasa dirinya hanya membuat para Hunter di negara kecil tidak berguna lagi.

“Tenang saja. Kali ini aku tidak akan berpindah pihak. Ini adalah percobaan keduaku, dan jika kali ini berhasil lagi, maka pembuktian dataku akan selesai.”

Jack tidak tahu seberapa jauh ia bisa mempercayai orang ini. Namun, tidak diragukan lagi bahwa Grand adalah orang yang kompeten. Untuk saat ini, bekerja sama adalah pilihan terbaik.

“Baiklah kalau begitu. Terus Zack… dia cuma ikut arahan ‘Kehendak Yang Agung,’ ya.”

Mendengar perkataan Jack, Zack yang sedari tadi diam saja hanya mengangguk. Jika dilihat dari kejahatannya yang sudah jelas, mungkin Zack adalah yang paling “normal” di antara mereka. Meskipun dia tidak berguna saat mencari makanan tadi, setidaknya saat pertarungan nanti dia pasti akan melawan jika disuruh.

Grand mengepalkan tangannya dan menyatakan dengan penuh keyakinan.

“Mulai besok, kita akan mulai mengumpulkan orang dan memperkuat pasukan. Seharusnya masih ada waktu sebelum faksi Kitsune atau Hebi mulai bergerak secara konkret. Sebelum itu terjadi, kita akan merekrut mereka yang belum memihak dan membentuk kekuatan ketiga.”