SENSASI saat mengayunkan pedang ini benar-benar luar biasa, sama sekali tidak berubah sejak pertama kali aku memegang pedang dulu.
Apalagi kalau lawan yang ditebas adalah seorang Swordsman yang andal, rasanya sudah tidak ada lagi hal yang lebih mendambakan dari ini.
Setelah mencapai puncak ilmu pedang di wilayah timur yang jauh, aku berkelana demi mencari musuh yang jauh lebih kuat. Secara garis besar, teknik seorang pendekar pedang dibagi menjadi dua aliran, yaitu “Lembut” (Juu) dan “Keras” (Gou). Dan pedang milik Swordtail yang mengayunkan Guren Ohki ini bisa dibilang masuk ke dalam kategori pedang keras.
Sekali tebas bisa meruntuhkan gunung, dua kali tebas bisa membelah lautan, dan kalau sampai tiga kali tebas, maka tidak akan ada lagi orang yang bisa tetap berdiri di depannya.
Karena itulah, siapa pun yang mengenal Swordtail pasti akan langsung memikirkan cara agar dia tidak sampai mencabut pedangnya sejak awal.
Tapi, lawan kali ini justru sangat mendambakan Swordtail untuk mengayunkan pedangnya.
Dalam sekejap mata, medan pertempuran langsung diamuk oleh badai tebasan pedang.
Dinding logam yang tebal sudah hancur ditebas dan tidak berbentuk seperti sebuah ruangan lagi. Langit-langit ruangan yang penuh coretan luka tebas ini masih belum runtuh, kemungkinan besar karena bangunan ini dari awal sudah dirancang untuk mengantisipasi situasi terburuk seperti ini.
“Fufu… Hebat juga kemampuanmu,” ucap Swordtail kagum.
Swordtail merasa kagum karena setelah dia mengayunkan pedangnya sebanyak tiga kali, ternyata masih belum ada satu pun dari mereka yang tumbang.
Bagi seorang Swordman, dalam banyak kasus, poin kemampuan menyerang mereka biasanya akan jauh lebih tinggi dan melompat drastis dibandingkan kemampuan bertahan. Menghadapi Swordman level tinggi, zirah pelindung biasa tidak ada gunanya, jadi kalau sampai gagal menahan serangan, taruhannya adalah mati seketika.
“Jadi itu yaaaa, Katana Iblis Pembunuh Dewa yang dirumorkan ituuuuu?!” teriak Akahebi lantang.
Akahebi melayangkan raungan keras. Serangannya memang terhitung ringan tapi cepatnya minta ampun. Walaupun dibilang ringan, tapi jika targetnya adalah manusia biasa, daya hancurnya sudah lebih dari cukup. Pedang pria ini bener-benar murni sebilah pedang yang diciptakan untuk membunuh orang.
Sambil merendahkan posisi tubuhnya, Akahebi melancarkan serangan beruntun yang mengalir mulus begitu menginjakkan kakinya ke depan. Swordtail mengendalikan Guren Ohki dengan gerakan seminimal mungkin untuk menahan semua serangan itu. Akahebi tampaknya sengaja melakukan ini supaya Swordtail tidak punya celah membalas serangan.
Langkah kakinya bergerak memutar untuk mengincar titik buta. Serangan yang setengah-setengah pasti akan langsung ditangkis oleh Swordtail.
Untuk sesaat, pandangan mata mereka berdua saling beradu. Melihat Akahebi yang sedang tersenyum seringai, Swordtail pun ikut melemparkan senyuman balik.
“Gerakanmu masih bisa lebih cepat lagi, kan?” tanya Swordtail memprovokasi.
“Heh…!” gumam Akahebi tertantang.
Sosok Akahebi langsung menghilang dari pandangan dalam sekejap mata. Begitulah cara dia memanfaatkan celah untuk mengambil kepala lawan yang levelnya ada di atasnya.
Mengikuti arah insting niat membunuh yang terpancar, Swordtail langsung mengayunkan Guren Ohki ke arah belakang tubuhnya.
Teng! Untuk pertama kalinya, Swordtail merasakan sensasi hantaman yang berat di tangannya.
Tapi, serangan itu belum sampai membunuhnya. Lawannya juga tidak melarikan diri.
Akahebi ternyata berhasil menahan tebasan Guren Ohki dengan cara menyilangkan kedua pisau pendeknya menjadi satu.
“Dasar iblis pedang! …Kemampuanmu benar-benar di luar ekspektasiku,” puji Akahebi seringai.
“Fufu… Minimal, kamu memang harus bisa melakukan sejauh ini, kan?” balas Swordtail.
Pipi Akahebi yang sedang tersenyum seringai itu mendadak robek dan mengeluarkan sedikit darah.
Itu adalah bukti kalau dia tidak mampu meredam seluruh daya hancur serangan Swordtail secara sempurna.
Sayang sekali. Seandainya Mana Material di dalam tubuh Akahebi masih utuh, gerakannya pasti akan jauh lebih cepat dan jauh lebih tajam daripada ini.
Di tengah situasi saat keduanya sedang saling bertukar pandang, sebuah angin puyuh berwarna merah mendadak melompat masuk ke tengah-tengah mereka.
“Curang banget! Aku ikutan dong!” teriak Thousand Swords.
“Maaf ya, sudah buat kamu menunggu,” sahut Swordtail santai.
Thousand Swords langsung mengayunkan pedangnya. Tebasan pedangnya itu terlampau cepat dan benar-benar bergerak bebas tanpa pola.
Swordman pada umumnya biasanya akan bertarung dengan kaki yang menapak kuat di tanah. Tapi, pria yang satu ini begitu berbeda.
Kalau boleh jujur—ini adalah gaya pedang milik seorang Treasure Hunter. Sebuah pedang yang ditempa untuk menebas musuh di dalam Treasure Vault yang pijakannya tidak stabil; menebas lawan yang tubuhnya lebih keras daripada baja; menebas musuh yang wujudnya lebih abstrak daripada air; dan menebas demi mempertahankan nyawanya sendiri.
Seorang Swordsman yang telah menguasai segala jenis ilmu pedang, Thousand Swords.
Entah siapa yang memberikan julukan itu kepadanya, tapi pria ini kemungkinan besar bahkan sudah menguasai teknik pedang yang sebelumnya tidak pernah ada di dunia ini.
Thousand Swords melompat untuk menghindari tebasan horizontal, lalu dia mengayunkan pedangnya sambil memutar tubuhnya dengan sangat ekstrem di udara.
Seberkas cahaya yang turun dari langit tampak ikut memberkati teknik misterius yang dia keluarkan tersebut.
“Uoooooooh, Whirlwind Dimension Slash (Tebasan Dimensi Angin Puyuh)!!!” teriak Thousand Swords.
—Parahnya lagi, pria ini sengaja meneriakkan nama jurusnya lantang-lantang. Sebuah nama jurus yang bahkan tidak pernah didengar oleh siapa pun sebelum ini.
Swordtail memilih untuk tidak menahan serangan yang dikeluarkan sambil memutar tubuh secara tidak efektif tersebut, dia hanya bergeser selangkah agar bisa menghindarinya.
Pedang yang diayunkan itu langsung mengeruk area tempat Swordtail berdiri tadi, lalu tebasannya terus melesat sejauh beberapa meter ke depan hingga mengikis dinding di belakangnya.
Meskipun daya hancurnya terhitung hampir setara dengan Swordtail, tapi Swordtail yakin dirinya tidak akan bisa meniru jurus yang sama.
“Gagal ya. Berikutnya, ayo maju bergiliran! Ilmu Pedang Aliran Luke, Bentuk Pertama—Thousand Streams of Chaos (Seribu Aliran Kacau)!” seru Thousand Swords.
Kalau yang ini adalah Bentuk Pertama, lalu jurus yang tadi itu masuk ke bentuk yang mana…? pikir Swordtail heran.
Tapi, meskipun gerakannya kacau dan berantakan, tapi daya hancurnya sangat kuat. Gerakannya lurus tapi cepat dan tajam, terlihat sekali kalau ini hasil dari akumulasi latihan yang panjang.
Ditambah lagi, di dalam sorot matanya yang sedang mengayunkan pedang sambil tertawa itu tampak memancarkan aura kegilaan.
Teknik yang dimiliki Thousand Swords ini tidak tumbuh lewat proses latihan yang normal pada umumnya.
Melihat gaya bertarungnya yang begini, wajar saja kalau tidak ada Swordman yang sudi menjadi lawan tandingnya.
Sambil menghadap ke arah ujung pedang Thousand Swords yang tampak membayang seperti membelah diri menjadi banyak, Swordtail akhirnya ikut mengeluarkan tekniknya lagi setelah beberapa tahun berlahu.
“Aka Shigure (Hujan Gerimis Merah),” ucap Swordtail tenang.
“KGH?!” pekik Thousand Swords terkejut.
Swordtail langsung menjatuhkan ujung pedang lawan yang membayang banyak itu menggunakan kombinasi serangan beruntun yang ritmenya berubah-ubah dengan cepat.
Ini bukan sekadar ilusi mata belaka. Bayangan ujung pedang milik Thousand Swords tadi semuanya berwujud nyata.
Sebuah teknik yang satu aliran dengan Aka Shigure milik Swordtail, sebuah keajaiban yang cuma bisa dipahami oleh sesama Swordman kelas kakap saja.
Tapi, ada satu perbedaan besar antara jurus tersebut dengan Aka Shigure milik Swordtail.
Teknik Thousand Streams of Chaos milik Thousand Swords ini kemungkinan besar adalah—jurus ciptaannya sendiri.
Dalam sekejap, tubuh Thousand Swords langsung dipenuhi oleh banyak sekali luka goresan hingga mengeluarkan darah.
Kemungkinan besar, jurus ini adalah teknik yang baru saja dia ciptakan belum lama ini.
Tingkat kesempurnaannya masih mentah. Proses penyempurnaannya pun masih sangat kurang.
Meskipun luka-luka itu masih jauh dari kata fatal, tapi hal ini otomatis menciptakan sebuah celah yang besar.
Guren Ohki tampak bergetar kegirangan. Meskipun akhir dari pertarungan ini terasa agak antiklimaks, tapi pertempuran sesama Swordman memang selalu berakhir seperti ini sejak dulu.
—Dengan ini semuanya selesai.
“Kishin Tenrei (Sembahsujud Langit Dewa),” ucap Swordtail dingin.
Inilah—teknik pedang yang konon katanya pernah membunuh seorang Dewa di masa lalu.

Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang seluruh tubuh Swordtail. Begitu mengeluarkan jurus pamungkas tadi, Mana Material di dalam tubuhnya langsung terkuras habis.
Guren Ohki yang baru saja dia ayunkan terasa hampa, seolah-olah hanya membelah udara kosong tanpa memberikan sensasi hantaman balik sama sekali.
Di udara, mata Thousand Swords tampak terbelalak lebar. Tepat di dinding dan langit-langit yang ada di belakang punggung pria itu, sebuah garis lurus mendadak tercipta.
Sepersekian detik kemudian, pedang yang digenggam oleh Thousand Swords hancur berkeping-keping, disusul dengan darah yang menyembur deras seperti air mancur dari tubuhnya.
Tubuh pria itu pun langsung ambruk dan terkapar di lantai.
Otak, jantung, dan seluruh bagian tubuh yang penting demi bertahan hidup telah terbelah menjadi dua secara vertikal. Dia pasti mati seketika bahkan sebelum sempat merasakan rasa sakit.
Tubuh Swordtail mendadak lemas kehilangan tenaga. Dia buru-buru menancapkan Guren Ohki ke lantai demi menopang badannya agar tidak ikut ambruk ke tanah.
Sebab, sungguh tidak lucu kalau sang pemenang sampai ikut-ikutan tumbang di tempat.
Pertarungan sengit itu bahkan tidak berlangsung sampai satu menit. Akahebi cuma bisa tertegun melihatnya, lalu berbicara kepada Swordtail.
“…Jurus yang sangat mengerikan. Sebagai seorang Swordman, kau jelas-jelas berada jauh di depanku,” ucap Akahebi takjub.
“Heh… Hmph… Tenang saja, aku sudah tidak bisa mengeluarkan jurus itu lagi kok,” balas Swordtail sambil mengatur napasnya.
Melihat Akahebi yang kembali memasang posisi siap bertarung dengan sepasang pisaunya, Swordtail mencabut Guren Ohki yang tadi dia jadikan tongkat lalu mengarahkannya kepada Akahebi.
Rasa hampa langsung menyelimuti tubuhnya hingga membuat kepalanya terasa pening, tapi kondisi Akahebi sendiri sebenarnya juga sedang kehabisan Mana Material. Ini akan jadi kesamaan kondisi yang adil.
Hasil akhir pertempuran ini masih belum bisa ditebak. Ditambah lagi, teknik pedang milik Akahebi tidak memiliki celah bermain-main seperti gaya bertarung Thousand Swords tadi.
—Semuanya bakal diselesaikan dalam satu tebasan berikutnya.
Tepat di saat Swordtail hendak menginjakkan kakinya ke depan—sebuah suara yang terdengar sangat bersemangat mendadak menggema di dalam ruangan yang sudah hancur lebur tersebut.
“Krai!! Kamu lihat enggak jurus yang tadi?! Keren banget! Sialan, bener-bener bikin merinding!! Ah, maaf ya, pedangku malah hancur,” teriak Thousand Swords girang.
Mustahil… Dia harusnya sudah mati seketika!! pikir Swordtail syok.
Rasa merinding yang hebat langsung menjalar. Meskipun Swordtail refleks berbalik dan memperlihatkan celah yang fatal, Akahebi sama sekali tidak melancarkan serangan susulan.
Tepat di hadapan mata Swordtail, sosok Thousand Swords yang seharusnya sudah dihabisi dan terkapar di lantai tadi, kini perlahan-lahan mulai bangkit berdiri kembali.
Seluruh tubuhnya benar-benar bersimbah darah, sampai-sampai orang awam yang melihatnya pun pasti langsung mengira kalau dia adalah sesosok mayat.
Tapi, sorot matanya tampak berbinar terang. Tidak—situasi ini benar-benar aneh.
Swordtail jelas-jelas telah menebas tubuhnya secara vertikal. Seandainya dia masih hidup pun, dia harusnya tidak akan bisa berdiri, dan nyawanya dipastikan tidak akan bertahan lama.
“Wah, asli, hebat banget ya kamu. Kamu beneran yang terbaik. Di sepanjang hidupku sejak menjadi Swordsman, momen inilah yang paling membuatku tersentuh,” ucap Thousand Swords kagum.
Thousand Swords menarik sebilah pedang baru—sebilah katana dari sarung yang ada di pinggangnya.
Itu adalah sebilah katana indah dengan mata pisau yang tampak berkilau basah.
Entah kenapa, begitu katana itu dicabut, gerimis kecil mendadak turun dari atas kepala mereka, tapi hal semacam itu sudah tidak penting lagi sekarang.
Pria ini masih hidup. Jelas-jelas masih hidup.
“…Kenapa kamu bisa hidup?” tanya Swordtail heran.
“Swordtail, kamu ini tahu tidak apa arti dari Swordman terkuat yang sesungguhnya?” tanya Thousand Swords balik.
Itu adalah pertanyaan yang dulu pernah dilontarkan oleh pria yang sempat menjadi guru Swordtail saat dia baru pertama kali belajar ilmu pedang.
Kira-kira waktu itu dia menjawab apa… Apakah kekuatan, tekad, bakat, atau sebuah misi?
Swordtail sendiri sudah melupakan jawabannya—tapi Thousand Swords menjawabnya tanpa ragu sedikit pun.
“Sederhana saja. Swordman terkuat itu adalah orang yang tidak akan mati seberapa sering pun tubuhnya ditebas. Soalnya, dengan begitu ‘kan kita jadi bisa merasakan langsung teknik pedang milik musuh yang kuat menggunakan tubuh sendiri. Makanya, sekarang aku sudah biasa saja walau tubuhku ditebas,” jelas Thousand Swords santai.
“…Pria ini… Jangan-jangan, dia mengalihkan Mana Material-nya untuk—” gumam Akahebi bergidik ngeri.
Dugaan itu pasti benar. Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal selain hal itu.
Pria ini—sengaja memfokuskan jumlah Mana Material-nya yang masif murni untuk kemampuan regenerasi tubuh.
Dia tetap bisa hidup bahkan setelah menerima tebasan pedang yang konon pernah membunuh Dewa. Ini bukan sekadar kemampuan regenerasi biasa.
Kemungkinan besar—ini adalah kemampuan regenerasi khusus yang dikhususkan untuk menahan serangan tebasan pedang.
“Kekalahan dan rasa terima kasih benar-benar membuatku jadi semakin kuat. Aku akan mengalahkan kalian berdua, lalu melangkah satu tingkat lebih dekat untuk menjadi Swordsman terkuat!!” seru Thousand Swords bersemangat.
“Arti Swordman terkuat itu harusnya bukan yang seperti itu, tahu,” balas Swordtail heran.
Meskipun rasanya konyol… tapi ucapan itu ada benarnya juga.
Demi agar tidak kalah saat bertarung melawan sesama Swordman, cara paling simpel adalah dengan menetralkan seluruh kerusakan yang diakibatkan oleh tebasan pedang.
Tapi, untuk mewujudkan hal sekonyol itu menggunakan Mana Material, seseorang harus benar-benar mendambakan sebuah tubuh yang tidak bisa mati oleh pedang dari lubuk hatinya yang terdalam. Dengan perasaan yang jauh lebih kuat daripada keinginan untuk menguasai inti dari ilmu pedang itu sendiri.
Tidak, rasanya bukan begitu. Bukan sebuah tubuh yang tidak bisa mati oleh pedang. Kalau begitu, mentalnya sama saja seperti seorang pengecut yang melarikan diri.
Kemungkinan besar, hal yang didambakan oleh pria ini adalah—sebuah tubuh yang mampu menerima dan merasakan langsung segala jenis tebasan pedang di dunia ini.
Sambil diguyur oleh rintik gerimis yang membuat seluruh tubuhnya yang bersimbah darah tampak semakin basah kuyup, Thousand Swords tidak berteriak kepada Swordtail, melainkan kepada Akahebi.
“Ayo ronde kedua. Akahebi, mari kita mulai!! Tunjukkan padaku seluruh kekuatan yang kamu miliki!” tantang Thousand Swords.
“Boleh juga tawaranmu ituuuuu!! Bakal aku coba apakah kau tetap bisa hidup setelah tubuhmu aku cincang sampai berkeping-keping, Thousand Swords!!” balas Akahebi menyanggupi tantangan tersebut.
◇
…INI sebenarnya sejenis kejadian macam apa, sih?
“W- Woi, ada apa ini?! Suara apaan ini? Gempa bumi atau yang lain—” ucap Jack panik di sudut ruangan.
“…Mana kutahu! Orang dari tadi aku pingsan!” balas Grand tidak kalah ngegas.
Di sudut ruangan, Jack dan Grand malah sibuk adu bacot. Di tengah guncangan hebat, suara ledakan, atmosfer yang makin mencekam, dan entah dari mana asalnya terdengar suara teriakan orang-orang yang lagi ngamuk, aku cuma bisa duduk bengong linglung.
Dari awal otakku memang tipikal yang lola, tapi kalau situasinya sudah begini, kondisi ini sudah buat aku angkat tangan buat memahami keadaan.
Gimana enggak, coba? Entah kenapa aku tiba-tiba diserang sama musuh yang jumlahnya enggak terhitung, pas berhasil kabur dan baru tidur bentaran, eh tiba-tiba Luke nongol. Habis itu dia langsung mulai bertarung. Beneran enggak jelas maksudnya apa. Realitanya sama sekali tidak nyambung, sudah kayak lagi mimpi buruk saja.
Tapi ya, sayangnya ini bukan mimpi.
Kira-kira si Luke paham situasinya enggak, ya? …Ah, pasti enggak paham, sih. Luke Sykol itu emang teman masa kecil yang baik dan punya banyak sisi positif. Tapi di saat yang sama, dia juga tipe cowok yang bisa ikutan ritual saling bunuh cuma modal terbawa suasana.
…Yah, tapi lagian yang ada di sini semuanya kriminal juga. Jadi setidaknya, aku enggak perlu khawatir ada warga sipil yang kena tebas. Jadi masih aman.
“Grand… atau Jack deh, ada yang tahu situasinya?” tanya aku pasrah.
“Ti-tidak tahu!! Bagaimana bisa jadi begini!!” teriak Jack frustrasi.
“…Berdasarkan data yang aku punya, satu-satunya hal yang bisa dipastikan adalah nyawa kita saat ini masih selamat, Bos Besar,” jawab Grand.
“Nah… itu poin yang paling penting,” ucapku membenarkan.
Nyawa selamat. Bukankah itu sebuah pencapaian yang sangat bagus?
Sementara itu di sisi lain, si Luke tampaknya lagi asyik menikmati pertarungan yang taruhannya nyawa dengan wajah sangat gembira.
Garis-garis luka tebasan terus terukir di lantai, dinding, hingga langit-langit, mengiringi adegan saling bunuh tiga Swordsman yang gerakannya secepat kilat. Padahal tipe pendekar pedang yang bisa nebas logam itu jarang ada, kok bisa-bisanya di sini langsung ngumpul tiga orang sekaligus… Jangan-jangan tempat ini sebenarnya adalah dunia utopia buat Luke?
Gara-gara dindingnya bolong-bolong dan hancur ditebas, ini ruangan makin lama makin terasa luas. Kupingku juga sudah mati rasa, beneran terasa enggak nyata.
Pas aku lagi asyik bengong, Luke dkk tiba-tiba menghilang ke luar ruangan. Di momen itulah aku baru niat buat mencari tahu situasi, lalu memanggil nama Luke.
“Luuuuuukeee!! Lagi asyik tidak di sanaaaaa?!” teriakku.
“Uoooooh!! Makasih, Kraaaaai!!” balas Luke dari kejauhan.
Oh, ternyata lagi asyik banget, toh.
Luke yang tadi sempat menghilang di lorong langsung balik lagi dengan kecepatan dewa. Akhirnya mataku bisa menangkap sosoknya dengan jelas. Dia masih pakai baju tempur kasualnya yang biasa, tapi bedanya, sekarang seluruh tubuhnya sudah basah kuyup berlumuran darah segar.
“Lawan yang paling mantap!! Satunya punya serangan instakill, satunya lagi punya jumlah serangan secepat kilat! Semua hal yang pengen aku rasain dan semua penyesalanku di masa lalu, semuanya ada di sini! Rasanya ingin aku ajak tanding terus!” seru Luke dengan mata berbinar-binar.
“…Itu darah musuhmu?” tanya aku agak waswas.
“Hm? Ada sih dikit darah mereka, tapi kurasa mayoritas ini darahku sendiri,” jawab Luke santai.
Parah banget nih orang. Ya sudahlah, yang penting dia masih hidup. Lagian se-sableng-sablengnya Luke, dia pasti masih tahu batasan agar tidak mati… kayaknya, sih.
Eh tapi tunggu dulu, kok senjata yang dia pegang berubah? Tadi perasaan dia pakai Field Star, pedang relik aneh yang kalau diayunkan bakal bikin cahaya turun dari langit secara mubazir. Kenapa sekarang malah ganti jadi Rain Saber, pedang yang kalau dipegang doang bisa bikin gerimis buatan? Ini anak lagi menjemur koleksi relik yang enggak jelas apa gimana, sih?
“Btw, ada perlu apa? Aku lagi di tengah-tengah pertarungan sengit nih, seru banget asli. Mereka bener-bener mantap. Sekarang aku lagi mencoba beberapa jurus baru, jadi tunggu bentar lagi ya sampai tandingnya selesai,” ucap Luke minta izin.
Aku cuma bisa mengelus dada. Tiba-tiba datang ke penjara cuma buat melakukan hal beginian… Tapi ya, aku juga yang salah karena tadi malah kasih izin. Kalau mereka lanjut bertarung di sini, jujur aja… aku agak ngeri nanti dimarahi sama Zinn-san.
“Aduh, mending kamu tenang dulu, Luke. Coba agak tenang. Pertarungan sengit emang bagus. Tapi gimana ya… agak enggak enak sih ngomongnya, tapi anu… tahu ‘kan maksudku?” ucapku sambil pasang muka serius.
“…Ah, begitu ya… Oalah. Aku paham.” gumam Luke mendadak melunak.
Meskipun Luke biasanya tipikal manusia yang hobi trobos depan, tapi kadang-kadang dia mau juga dengerin omonganku. Tampaknya dia sadar kalau mukaku kelihatan serius.
Dengan wajah yang agak kecewa, Luke langsung berbalik dan berteriak ke arah musuhnya yang lagi berdiri bersimbah darah menunggu kelanjutan ronde kedua.
“Maaf ya! Kata Krai, berhubung sekarang Mana Material kalian lagi tipis, pertarungan kita jadi enggak adil!” teriak Luke tanpa dosa.
“!?” diam Swordtail dengan terkejut.
…Heh, perasaan aku enggak ngomong begitu, kan? Tapi ya sudahlah, yang penting mereka berhenti bertarung, aku ikut saja. Btw, ini anak sebenarnya lewat jalan mana sih kok bisa sampai ke sini?
“Benar juga, tidak adil kalau bertanding saat kondisi kalian lagi lemas! Enggak ada gunanya tanding kalau tidak maksimal, lagian sayang banget!! Nanti saja kalau kalian sudah di luar dan kekuatan kalian sudah pulih, kita tanding lagi!” seru Luke melambaikan tangan.
“HAAH?!” teriak si wanita bersimbah darah kaget bukan main.
Bagus deh kalau si Luke dapat teman baru… meskipun mereka kriminal!
Luke kemudian memutar pedangnya dengan gaya yang heboh ke arah belakang punggungnya, lalu berteriak lantang.
“Anggap aja ini hadiah perpisahan dariku! Ilmu Pedang Aliran Luke, Bentuk Ke-53—Ice Dragon Cannon (Meriam Naga Es)!!”
Banyak sekali bentuknya, ya…
Di depanku yang cuma bisa pasrah sambil merenungi hidup, tebasan yang dilepaskan Luke mendadak berubah jadi angin puyuh raksasa yang bergerak di atas lantai. Perasaan dulu tebasan si Luke cuma bisa terbang sedikit doang, kok sekarang sudah segede ini? Tapi memang ya, sudah lama sekali aku enggak pernah lihat pertarungan Luke secara langsung.
Tebasan angin puyuh itu langsung melesat tepat ke arah dua orang tadi, dan entah pakai logika mana, jurus itu langsung memicu ledakan yang menggelegar.
Pas asap sudah hilang, dua orang tadi sudah lenyap tanpa bekas.
Kayaknya mereka milih pergi deh… Si Luke ini malah memberikan pedang dan jalan kabur buat para penjahat.
Melihat kelakuan si manusia merdeka dari klan kami ini, Jack sama Grand langsung matung dengan mulut menganga. Sekarang yang tersisa cuma ruangan yang hancur lebur, sampai aneh rasanya kok ini gedung enggak roboh.
Aku pun berdehem sedikit, lalu mencoba mengklarifikasi satu hal yang agak mengganjal di otakku ke Luke.
“Luke, jurus yang tadi, es-nya di bagian mana?” tanyaku kepo.
“…Soalnya enggak ada Lucia. Kalau ada Lucia, nanti jurusnya bisa berubah jadi pedang sihir,” jawab Luke beralasan.
Syukurlah, ternyata kalau sendirian, jurusnya belum bisa berubah jadi pedang sihir.
“Sebenarnya kalau pakai Thunder God Sword (Pedang Dewa Petir) sih tipis-tipis masih bisa, tapi kalau elemen es itu susah banget jalurnya. Si Lucia emang hebat, ya,” puji Luke.
Yang cuma modal mengayun pedang tapi bisa mengeluarkan petir, ya? Misteri alam.
“Yaudah skip, buruan ceritain situasinya ke aku. Di sini sisa berapa Swordman lagi? Ada yang boleh aku tebas enggak?” tanya Luke sambil menunjuk Jack.
“Jangan, dia ini jangan ditebas. Anggap saja dia kawan kita,” jawabku buru-buru menyelamatkan nyawa Jack.
Aku cuma bisa menghela napas. Bukankah harusnya aku yang bertanya situasi ke dia, ya? Kok malah dia yang menagih info? Tapi kalau dipikir-pikir, jika teman masa kecilku yang rada sableng ini sudah telanjur nyasar ke sini, mending aku laporan ke Zinn-san enggak, ya? Aduh, malas banget ketemunya… Tapi kalau dipikir pakai otak sehat, yang salah di sini ‘kan pihak Zinn-san yang enggak kunjung menjemput aku dari kemarin.
Tapi ya sudahlah, yang jelas aku enggak bisa membiarkan Luke keluyuran sendirian di sini. Walaupun bagi Luke tempat ini sudah mirip surga penuh lawan bertarung—
Di saat aku lagi dilema, Grand mendadak mengangkat tangannya.
“Bos Besar, mohon maaf kalau aku lancang, tapi bolehkah aku menjelaskan situasinya?” tanya Grand menawarkan diri.
“Oh, boleh banget. Silakan.” jawabku pasrah.
Lah, ini anak ternyata tahu situasinya? Terus kenapa dari tadi enggak cerita ke aku, sih?
Di depan mukaku yang mulai masam, Grand dengan wajahnya yang kelihatan lelah langsung memulai penjelasannya.
—
Mendengar penjelasan dari Grand, dahi Luke langsung berkerut serius.
“Oh, jadi gitu ceritanya… Kompleks juga, ya,” gumam Luke sok paham.
Aku yang mendengar juga punya pikiran yang sama.
Tidak disangka aku bakal jadi buronan utama faksi Hebi sama Kitsune… Salahku apa coba sampai dapat masalah bertubi-tubi begini? Tapi ya aku emang sering diincar orang juga, jadi ya masuk akal saja kalau dipikir-pikir.
Oh iya, kata Grand, faksi Hebi sama Kitsune sengaja kerja sama dan bikin aliansi demi bisa menumbangkanku. Tapi kalau poin yang ini, mohon maaf nih, aku enggak percaya. Kayaknya tingkat kevalidan data si Grand ini perlu dipertanyakan lagi.
Lagian, di dalam cerita si Grand tadi, ada satu poin lagi yang jelas-jelas ngaco parah. Dia bilang aku berhasil mengusir si Absolute Ice, Himuro Delilah dari faksi Hebi pas dia mau menyerangku tadi malam, cuma modal duduk diam doang.
Mari kita berpikir pakai logika yang sehat. Aku ini cuma manusia biasa yang bahkan enggak punya bakat buat menyerap Mana Material. Kalau si Himuro itu emang beneran orang sakti, dia pasti langsung tahu dalam sekali lirik kalau Mana Material di tubuhku itu ampas. Tapi si Grand malah bikin narasi kalau Himuro langsung kena mental pas melihat auraku, terus kabur ketakutan.
Mitosnya ‘kan orang kuat kadang enggak bisa mendeteksi orang lemah, tapi kalau dibalik, orang kuat masa iya takut sama orang ampas kek aku? Agak aneh emang teorinya.
Untungnya, meskipun Luke itu maniak pedang, dia enggak se-bego itu buat langsung menelan mentah-mentah cerita si Grand… mungkin ya.
Mendengar dongeng dari Grand, Luke sempat merem sebentar sambil pasang muka mikir keras, sebelum akhirnya dia mengangguk mantap.
“Berarti intinya… aku bebas bertarung sepuasnya sama semua penjahat yang pernah kita jeblosin ke sini dulu, kan?” tanya Luke dengan polosnya.
“…?” diamku, Jack, dan Grand serentak.
Ini anak beneran enggak nyambung frekuensinya. Aku, Jack, dan Grand cuma bisa menatap Luke dengan pandangan seolah-olah lagi melihat sesuatu yang sulit dipahami.
Melihat kita bertiga melongo, Luke pun memberikan penjelasan tambahan (padahal aku juga ikut melongo, tapi ini anak sama sekali enggak melirik ke arahku).
“Gini loh, kita ‘kan selama ini selalu bertarung sampai mati, kan? Kadang kita bisa menang lawan musuh yang levelnya di atas kita juga karena faktor hoki atau modal kerja sama bareng teman-teman. Nah, sekarang kita dapet kesempatan kedua buat bertarung sepuasnya sama musuh yang sudah pernah kita kalahin dulu tanpa perlu beban moral! Mantap banget kan!! Wah, aku baru tahu kalau penjara ternyata bisa digunakan seperti ini! Untung aku ikut datang!” seru Luke tanpa dosa.
Enggak ada. Enggak ada sejarahnya penjara digunakan buat arena tawuran. Tapi ya sudahlah, terserah dia saja yang penting bahagia.
Tiba-tiba, dari arah luar ruangan terdengar suara teriakan orang-orang yang lagi marah dari kejauhan.
Entah lagi ada kerusuhan apa, aku enggak tahu penyebabnya, tapi di situasi chaos begini, keberadaan si Luke yang kuat ini jujur aja membantu buat jadi tameng.
“Eh btw, Luke, kamu ke sini lewat mana? Kok bisa nyasar sampai dalam?” tanyaku penasaran soal rutenya.
“Oh, itu. Kemarin aku menang main pingsut lawan anak-anak. Soalnya yang lain pada pengen ikutan ke sini juga,” jawab Luke enteng.
…Bukan itu maksudku. Aku nanyanya lewat rute mana, bukan sistem kualifikasi tiketnya.
Tapi, sebelum sempat bertanya lebih lanjut, aku akhirnya paham bagaimana caranya Luke bisa sampai ke tempat ini.
“Krai-saaaan! Lama tidak jumpa! Aku nomor dua!”
“………”
Mendengar suara yang sangat kukenal itu, aku langsung menoleh tanpa berkata-kata.
Tepat dari area tengah ruangan, setengah badan bagian atas Sitri mendadak muncul mencuat, lalu dia melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Distorsi ruang yang terlihat di bawah pinggangnya itu persis seperti jenis distorsi yang muncul saat Selene menggunakan sihir teleportasi.
Tapi, melihat seseorang cuma nongol setengah badan begitu jujur efek visualnya serem banget. Itu potongan tubuhnya bagaimana bentuknya coba?
Sitri mendadak merona, lalu berkata malu-malu.
“Aku tadi mau lewat, tapi malah tersangkut. Tapi omong-omong, tempat ini benar-benar menyerap Mana Material ya.”
“Lho? Bukannya dulu dibilang sihir teleportasi enggak bisa dipakai berturut-turut? Terus harusnya setelah ini ‘kan gilirannya Liz?” tanya Luke kebingungan.
“Karena mana miliknya habis dan butuh waktu lama buat dipakai lagi, jadi aku paksa Selene-san buat minum Mana Potion banyak-banyak. Tapi sepertinya jumlah mana yang pulih masih kurang sedikit, jadinya gerbang yang terbuka cuma ukuran minimal… Bisa tolong tarik aku?” jelas Sitri.
“Teleportasi ruang… tidak masuk akal,” gumam Jack syok.
“Data… data-dataku, semuanya jadi hancur berantakan,” ucap Grand yang jiwanya ikutan terbang.
Melihat mereka berdua, aku cuma bisa membatin.
…Tenang saja, Sitri itu orangnya bisa diandalkan kok, enggak bakal sesableng Luke.
Aku langsung mengulurkan kedua tangan, meraih tangan Sitri yang sedang panik pasrah, lalu menariknya sekuat tenaga.
Sret! Sitri keluar dari distorsi ruang itu dengan mulus, mendarat di lantai dengan posisi yang anggun, lalu berkata dengan senyuman penuh kemenangan sambil tetap menggenggam tanganku.
“Aku nomor dua! Nanti kalau Kakak ngamuk berat, tolong bantu belain aku ya, Krai-san,” pinta Sitri.
“Ah~ kamu ini nekat banget. Si Liz pasti bakal marah besar, lho,” sahutku agak khawatir.
“Lagian Mana Potion itu ‘kan punyaku sendiri. Tapi, meski dari awal aku yakin tidak akan kenapa-kenapa, untunglah saat tersangkut tadi badanku tidak beneran terbelah jadi dua,” ucap Sitri santai.
“?!”
Ini anak enggak sayang nyawa apa bagaimana? Aku enggak pernah ya minta tolong diselamatkan sampai harus mempertaruhkan nyawa begitu?
Lagian, si Luke juga sama saja, mereka berdua ini kenapa enggak ada ragu-ragunya sama sekali sih kalau urusan menerobos masuk ke penjara?
“Oh iya, Sitri. Kata orang-orang di sini, di pulau penjara ini ada banyak banget musuh yang dulu pernah kita jeblosin, lho. Kita bisa tanding ulang sama musuh-musuh kuat itu lagi!!” seru Luke heboh sendiri.
“Haah… Luke-san, sebenarnya tujuanmu datang ke sini untuk apa?” tanya Sitri heran.
Nah, benar banget! Tolong omeli dia, Sitri-chan!
Sebenarnya tujuan si Luke datang ke sini itu buat apa, coba?! …Enggak, serius deh, tujuannya apa?
“Kan dulu sudah aku jelaskan! Di sini itu tidak hanya ada anggota Hebi, Kitsune, atau Akashic Tower yang pernah kita lawan saja, tahu! Tapi penjahat-penjahat berbahaya yang dikirim dari berbagai negara di dunia juga berkumpul di sini! Dan dua orang di sebelah sana itu juga aku tidak kenal siapa!” omel Sitri.
Uhm, uhm, suarakan isi hatiku!
Tapi kalau bisa, tolong penyampaiannya jangan kelihatan seolah-olah kamu juga lagi menikmati situasi ini dong. Sitri ini tipe yang sepertinya punya ketertarikan tersendiri sama tempat semacam penjara, jadi aku agak sangsi kalau rasa waswas yang aku rasakan bisa tersampaikan ke dia.
“Lagipula, mending Luke-san urus dulu itu penampilanmu,” ucap Sitri santai sambil tersenyum lihat Luke yang bersimbah darah.
Ya sudahlah, yang penting kalau ada Sitri, aku merasa semua masalah yang bakal terjadi ke depannya pasti bisa diatasi.
Melihatku yang emosinya sudah campur aduk enggak karuan, Sitri berkata sambil tersenyum manis.
“Karena takut tersangkut lagi, aku tidak membawa ranselku yang biasanya. Tapi aku ada bawa Potion dan beberapa barang kecil lainnya kok. Kalau ada apa-apa, andalkan aku saja ya.”
“Hm, hm, benar juga. Terima kasih ya, aku bener-bener mengandalkanmu,” jawabku terharu.
Memang enggak ada yang lebih bisa diandalkan daripada seorang teman masa kecil berprofesi Alchemist yang frekuensi pemikirannya bisa sejalan.
“Eh omong-omong, Lucia mana?” tanyaku baru sadar.
“Kalau ada apa-apa, andalkan aku saja ya!” balas Sitri ceria.
Padahal aku mengira sosok yang diam-diam merapal sihir di belakang atas perintahku sebelumnya itu Lucia… Tapi kalau bukan Lucia, terus itu sihir siapa? Siapa sebenarnya coba…?
“Yaudah, Grand, tolong ceritain datanya ke Sitri. Siapa tahu dia paham sesuatu. Sitri ini otak dari tim kami, lho,” perintahku.
“…Baik, Bos Besar. Meski aku tidak yakin hal ini bisa menyelesaikan situasi yang sudah sekacau ini, tapi—” jawab Grand pasrah.
Enggak apa-apa, serahkan saja semuanya pada Sitri, dia pasti bisa.
Orang-orang sering bilang kalau seorang Alchemist itu butuh persiapan matang sebelum bertindak, tapi Sitri ‘kan sudah biasa menghadapi situasi hidup dan mati sejak zaman kita masih miskin dulu. Jadi kalau urusan improvisasi di tempat, itu sudah jadi keahliannya.
Sambil tersenyum ramah, Sitri mulai menyimak penjelasan situasi dari Grand.
Beberapa anggota klan kita kadang bilang senyumannya yang enggak pernah luntur itu agak menyeramkan, tapi bagiku, senyuman itu justru kelihatan sangat meyakinkan.
Setelah selesai mendengarkan semua informasi, Sitri sempat memasang ekspresi berpikir sejenak, sebelum akhirnya langsung kembali tersenyum cerah dan berkata.
“Krai-san, sepertinya… barang yang aku bawa karena dorongan perasaan ‘buat jaga-jaga, siapa tahu butuh’ ini akan berguna.”

Bener-bener persiapan yang sangat amat matang ya.
Sambil tersenyum manis, barang yang dikeluarkan Sitri dari balik bajunya adalah—sebuah wig warna merah menyala.
Kira-kira dia mau ngapain coba pakai wig begitu?
…Asli aku enggak paham sama sekali, tapi ya sudahlah, mending aku ikut ketawa saja dulu.
◇
SIALAN, bagaimana bisa menang kalau begini?!
Menggunakan bom tangan pesanan khusus, Zinn meledakkan lorong untuk menahan pergerakan para bajingan itu, lalu memulai strategi mundur.
Bertindak sebagai penjaga lini belakang, Zinn menghancurkan pijakan kaki dan memukul mundur kawanan penjahat yang merangsek maju menggunakan senjata yang sudah sangat akrab denganku—sebuah tongkat kayu.
Sejak awal, Zinn sudah bersiap menghadapi pertarungan yang mustahil ini. Jumlah antara tahanan yang mendekam di dalam penjara ini dengan sipir yang ada benar-benar terlampau jauh. Ditambah lagi, pihak musuh dipenuhi oleh orang-orang dari faksi petarung. Sebenarnya, jika para tahanan tidak bekerja sama, situasi ini masih mungkin untuk diredam. Namun, para tahanan yang bergerak di bawah komando Akahebi ternyata jauh lebih terorganisasi dari yang kubayangkan.
Meski begitu, bisa dikatakan tindakan kami sejauh ini sudah cukup bagus. Sebab, kami berhasil memulai strategi mundur sebelum ada korban jiwa di pihak sipir.
“Bagaimana sekarang, Zinn? Kita tidak bisa keluar, itu sama saja masuk ke dalam perangkap mereka!”
“Aku juga tahu! Sialan!”
Sejak melangkah masuk ke dalam penjara ini, Zinn sudah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Kunci gerbang pintu masuk hanya bisa digunakan ketika kami sudah berhasil membuat mereka mundur sepenuhnya.
“Menyerahlah sekarang. Jika kamu menyerah sekarang, setidaknya aku bisa menjamin nyawamu tetap selamat, tahu?”
“Bising!”
Provokasi dari Himuro yang terus mengejar tanpa memedulikan serangan penahan kami. Zinn mengayunkan tongkatku untuk menghancurkan ribuan panah es yang melesat dengan kecepatan tinggi, lalu memanfaatkan momentum tersebut untuk menyapu bersih para penjahat yang berhasil menyusul dan hendak menyerang.
Butiran es tampak berkilau dan bertebaran di udara. Zinn bisa melihat ekspresi Himuro yang sedikit berkerut dalam sekejap mata.
Salah satu alasan mengapa pihak Zinn masih bisa memberikan perlawanan dalam strategi mundur ini adalah karena para Magi di faksi tahanan sudah sangat kelelahan.
Karakteristik wilayah di tempat ini membuat pemulihan mana sangat lambat, dan daya hancur sihir pun ikut menurun. Oleh karena itu, mereka yang hanya menguasai sihir tingkat dasar bahkan tidak akan bisa merapalkan mantra sama sekali, dan magi hebat sekelas Himuro pun tidak bisa sembarangan melepaskan sihir serangan tingkat tinggi.
Namun, jika dibalik, hal itu berarti pertempuran jarak dekat dapat dilakukan tanpa adanya batasan yang berarti di wilayah ini.
Jika Akahebi dan Swordtail sampai bergabung dan jatuh korban jiwa di pihak sipir, situasi dipastikan tidak akan bisa dipertahankan lagi.
Pihak Zinn sudah menumbangkan banyak tahanan, namun jumlah musuh sama sekali tidak terasa berkurang.
Kami kalah jumlah secara telak. Pasukan bantuan masih membutuhkan waktu yang lama untuk tiba, dan melarikan diri dari penjara pun sangat sulit.
Jika sudah begini, pilihan yang bisa diambil sangatlah sedikit.
Di dalam penjara ini, terdapat sebuah safe zone—sebuah ruangan rahasia yang sengaja dibuat dan hanya diketahui oleh para sipir sebagai langkah antisipasi. Jika kami bisa melepaskan diri dari kejaran musuh dan bersembunyi di sana, kami akan mampu bertahan hingga pasukan bantuan tiba.
Langkah pertama yang harus diambil adalah—bergabung dengan Thousand Tricks.
Pada dasarnya, alasan Zinn dan yang lain sampai harus masuk ke dalam penjara adalah demi mempertimbangkan Thousand Tricks. Sungguh menyebalkan, namun demi memastikan keselamatan pihak Zinn, kerja sama dengannya mutlak diperlukan. Setelah itu, entah bagaimana caranya, senjata yang dibawa masuk oleh Thousand Swords harus diamankan kembali demi mencegah para tahanan melarikan diri dari penjara.
Jika dipikirkan kembali secara dingin, dalang dari semua kekacauan ini adalah Thousand Tricks.
Gara-gara kedatangan pria itu, faksi Kitsune dan Hebi saling bersekutu, lalu Thousand Swords mendadak muncul di hadapan Thousand Tricks, dan ujung-ujungnya Zinn beserta para sipir harus terseret masuk ke dalam penjara.
Aku pernah mendengar rumor bahwa Thousand Tricks sering memberikan cobaan kepada orang lain demi membuat mereka berkembang, namun itu adalah kebohongan yang keterlaluan.
Hal seperti ini—sama sekali tidak layak disebut sebagai cobaan.
Rekan yang berlari di barisan depan mendadak berteriak.
“Zinn, ada Swordtail dan Akahebi di depan! Mereka memegang pedang!”
Ini adalah skenario terburuk. Dua orang yang dikategorikan memiliki tingkat bahaya tertinggi saat pertama kali dijebloskan ke penjara. Walaupun Mana Material mereka mungkin sudah sedikit terkuras, menghadapi keduanya dalam keadaan bersenjata lengkap akan menjadi pertarungan yang sangat berat.
Apa yang harus kulakukan? Apakah aku bisa menang melawan orang-orang yang mampu menebas dinding dan langit-langit penjara ini layaknya memotong mentega?
Lagipula, ke mana perginya Thousand Swords?
Tidak ada waktu—untuk ragu. Zinn mengatur napas dan langsung memberikan instruksi kepada rekan-rekanku.
“Cih… Biar aku yang hadapi. Berikan dukungan dari belakang.”
Sosok kedua orang itu mulai masuk ke dalam jarak pandangku. Apakah menghadapi Thousand Swords terasa begitu berat meski dilakukan dua lawan satu? Keduanya tampak bersimbah darah dan terlihat sangat kelelahan.
Meskipun luka mereka masih dalam batas bisa berjalan—apakah aku punya peluang menang?
Kecepatan pergerakan para pengejar di belakang mulai melambat. Tampaknya karena mereka telah memastikan keberadaan kedua orang tersebut.
Meskipun daya hancurnya tidak seberapa, Zinn masih memiliki sisa bom. Zinn akan memisahkan mereka dengan bom tangan, lalu memberikan serangan fatal pertama kepada Akahebi yang memiliki masa tahanan paling lama. Tidak ada jalan keluar lain selain itu.
Zinn menyentak lantai dengan kuat untuk menambah kecepatan.
Keraguan hanya akan membawa kematian. Zinn sudah berulang kali menyaksikan pemandangan seperti itu.
Namun jika dibalik, hasil akhir dari sebuah pertarungan tidak akan pernah diketahui sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Zinn menarik napas dalam-dalam, lalu memosisikan tongkat kayu di kedua tanganku dalam posisi siap tempur.
Dan tepat pada saat keduanya hampir masuk ke dalam jarak jangkauan serangan—mereka berdua menghela napas, lalu melepaskan senjata yang mereka genggam begitu saja.
“?!”
“Pergilah. Aku akan pura-pura tidak melihat.” Bibir Swordtail bergerak mengucapkan kalimat itu tanpa mengeluarkan suara.
Apakah ini jebakan, atau mereka memiliki maksud lain?
Senjata mereka telah dilepaskan. Meski hanya sesaat, tindakan tersebut jelas-jelas menciptakan sebuah celah yang fatal.
Keputusan harus diambil dalam sepersekian detik.
Zinn langsung melesat melewati bagian samping kedua orang yang kini telah bergeser ke tepi lorong tersebut. Rekan-rekan yang lain sempat terkejut sesaat, namun mereka segera bergegas mengikuti langkah Zinn.
Zinn bisa merasakan hawa kegemparan dari arah para pengejar di belakang. Seperti dugaan, tindakan ini tampaknya bukan merupakan sesuatu yang telah mereka rencanakan bersama.
Sebuah pernyataan yang bahkan sampai membuang kesempatan untuk melakukan serangan jepit. Zinn tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, namun ini adalah sebuah keberuntungan di tengah kemalangan.
Saat Zinn melirik sedikit ke arah belakang, Swordtail dan Akahebi tampak telah memungut kembali senjata mereka.
Senjata-senjata itu bahkan memiliki potensi untuk menghancurkan gerbang penjara, namun untuk saat ini, Zinn terpaksa harus mengurungkan niat untuk mengamankannya.
Sekarang, fokus utamanya adalah bergabung dengan Thousand Tricks untuk menyusun kembali strategi. Semuanya baru akan dimulai dari sana.
◇
APA yang sebenarnya sedang terjadi?!
Akahebi and Swordtail, yang seharusnya berada dalam posisi melakukan serangan jepit, justru membiarkan Zinn dan pasukannya lolos begitu saja.
Melihat pemandangan yang mengejutkan tersebut, pikiran Himuro seketika membeku.
Memang benar bahwa masuknya Zinn dan para sipir ke dalam penjara merupakan situasi yang berada di luar dugaan Akahebi dan yang lainnya. Namun, hal itu tetap tidak bisa menjadi alasan bagi mereka untuk membiarkan para sipir melintas begitu saja di sisi mereka.
Urat-urat biru tampak menyembul di dahi Aohebi. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk menghentikan pengejaran. Padahal, hanya tinggal sedikit lagi mereka dapat menangkap para sipir tersebut, namun insiden yang baru saja terjadi ini sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka membatalkan niat itu.
Kedua orang yang kembali ke barisan tersebut tampak bersimbah darah di sekujur tubuh, dan raut kelelahan pun terpancar jelas di wajah mereka.
Tidak ada yang tahu bagaimana hasil akhir dari pertarungan melawan Thousand Swords. Namun, setidaknya, luka yang diderita oleh keduanya bukanlah cedera parah yang sampai membuat mereka tidak mampu menghentikan pergerakan Zinn dan pasukannya.
Ekspresi Aohebi, yang selama ini selalu dikenal tenang dan berkepala dingin, kini tampak sangat gusar.
“Apa maksud dari semua ini, Aka, Swordtail? Jelaskan kepada kami,” tagih Aohebi.
Pada dasarnya, alasan mengapa pihak Aohebi sampai harus pergi untuk menghabisi Thousand Tricks adalah karena Akahebi dan Swordtail lebih memilih untuk memprioritaskan Thousand Swords ketimbang Thousand Tricks. Memang, jika dilihat dari kekuatan tempur musuh, mengabaikan keberadaan Thousand Swords bukanlah sebuah pilihan sejak awal. Namun, jika keduanya bukan merupakan petinggi tertinggi di organisasi, tindakan mereka sudah sepatutnya diproses sebagai bentuk pengkhianatan.
“Bagaimana hasil pertarungan melawan Thousand Swords? Mengapa kalian membiarkan Zinn dan yang lainnya lolos? Lalu, apa yang terjadi dengan Thousand Tricks?”
Mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aohebi, Akahebi akhirnya memberikan respons.
Ia menghela napas dalam-dalam, lalu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang berlumuran darah, ia berkata:
“Ah~ soal itu, Pertarungan melawan Thousand Swords berakhir menggantung di tengah jalan.”
“Aka, keparat, apa kau sedang meremehkanku? Kau bukan tipe orang yang akan membiarkan pertarungan berakhir seperti itu! Hah?” marahh Aohebi.
Akahebi adalah seekor binatang buas yang ganas. Ia merupakan salah satu penggila tarung nomor satu di organisasi yang akan tetap berusaha menggigit mati musuhnya selama tubuhnya masih bisa bergerak, tidak peduli seberapa kuat level lawan yang dihadapinya.
Namun, menanggapi gertakan dari Aohebi tersebut, sebuah hal yang luar biasa terjadi. Akahebi justru menyahut dengan nada yang terdengar seperti merasa bersalah.
“Ahh… Mau bagaimana lagi? Bajingan Thousand Swords itu bilang, dia ingin bertarung denganku dalam kondisi yang setara, di saat Mana Material milikku tidak terkuras.”
“…Haah?!”
Kemarahan seketika sirna dari wajah Aohebi. Anggota kelompok yang lain pun hanya bisa tertegun mendengarnya.
Ini benar-benar… tidak masuk akal. Mengembalikan pedang kepada Akahebi dan yang lainnya saja sudah merupakan hal yang sulit dipercaya, lalu pengalaman hidup seperti apa yang sebenarnya telah mereka lalui hingga bisa membentuk pola pikir yang seperti itu? Akahebi sendiri pun seharusnya tidak akan pernah mengucapkan hal semacam itu kepada musuhnya.
Dengan kata lain, kedua orang ini—bukan kembali karena kalah dalam hal kekuatan ataupun karena berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Melainkan, mereka kembali dengan begitu saja karena fokus mereka teralihkan akibat pernyataan yang terlampau konyol dari Thousand Swords.
Aohebi melipat kedua tangannya dan memejamkan mata sejenak untuk berpikir. Begitu ia membuka mata, ia berdecak kesal lalu berkata:
“…Cih. Baiklah. Kali ini, hanya untuk kali ini saja, aku akan memaafkan kalian. Lagipula, tampaknya kalian juga membawa pulang kembali senjata-senjata itu. Walaupun kita tidak bisa mengalahkan Thousand Swords ataupun melenyapkan Thousand Tricks, keuntunganyang kita dapatkan dari senjata ini masih jauh lebih besar. Hanya saja, setelah ini aku harus meyakinkan si Skytail.”
Benar sekali. Tujuan akhir dari Himuro dan yang lainnya hanyalah melarikan diri dari penjara. Walaupun mereka tidak bisa menangkap sipir ataupun membunuh Thousand Tricks, selama mereka dapat menghancurkan gerbang utama, mereka akan bisa keluar dari tempat ini.
Begitu mereka berhasil keluar dari area Area Tenang, mereka akan dapat menyerap kembali Mana Material dan meminjam kekuatan dari para Roh Elemen.
Namun, menanggapi kelonggaran dari Aohebi, sebuah hal yang dinilai mustahil dilakukan jika mereka sedang berada di dunia luar, Swordtail mendadak angkat bicara.
“Maaf saja, tapi kami tidak bisa menggunakan senjata ini. Karena senjata ini dikembalikan hanya khusus untuk digunakan bertarung melawan Thousand Swords.”
“Ha-Haaaaah?!” teriak Aohebi.
Ini benar-benar kacau. Sebuah teori yang teramat kacau. Namun, sorot mata Swordtail tampak sangat serius.
Wanita ini…!
“Begitulah situasinya, Ao. Jika kami menggunakan ini untuk melarikan diri dari penjara, itu sama saja dengan mengkhianati kepercayaan Thousand Swords. Setidaknya, sampai tujuan tersebut tercapai, kami tidak bisa menggunakannya untuk hal lain. Kau paham, kan?” jelas Akahebi pelan.
“Bagaimana mungkin aku bisa paham, bodoh!”
Aohebi yang sudah mencapai batas kesabarannya langsung melontarkan makian secara terang-terangan.
Ini benar-benar di luar dugaan. Hal ini terlampau jauh dari semua perkiraan yang ada.
Bagaimana mungkin Akahebi dan Swordtail bisa memegang teguh rasa balas budi terhadap Thousand Swords yang merupakan musuh mereka sendiri—
“Jika begitu, apa maksud dari semua ini? Apakah itu berarti, meski kita memiliki senjata yang telah dikembalikan oleh bajingan bodoh itu, kita tidak bisa keluar dan harus tetap tertahan di dalam penjara ini tanpa kejelasan?! Sadarlah, Aka! Mana Material tidak akan pernah kembali ke tubuh kita sebelum kita berhasil meloloskan diri dari penjara ini, tahu?!” ucap Aohebi.
Pada dasarnya, bagi Aohebi dan yang lainnya yang merupakan anggota dari organisasi kriminal raksasa, istilah masa tahanan itu tidak pernah ada. Meskipun mereka berpura-pura menjadi tahanan teladan, mereka tidak akan pernah dibebaskan dari pulau penjara ini.
Dengan kata lain, kecuali mereka melarikan diri dari penjara ini, selamanya Thousand Swords maupun Akahebi tidak akan pernah bisa mendapatkan pertarungan yang memuaskan seperti yang mereka inginkan.
Aohebi mulai menurunkan intonasi suaranya, lalu berkata dengan nada yang lebih lunak:
“Yang pertama harus kita lakukan adalah meloloskan diri. Benar kan, Aka? Begitu kita berada di luar dan kekuatan kita telah pulih sepenuhnya, kau bebas bertarung melawan Thousand Swords sepuas yang kau mau. Pada saat itu, aku tidak akan menghentikanmu.”
Benar. Langkah pertama adalah meyakinkan pria yang memiliki prinsip keras ini. Aohebi tetap berusaha untuk berpikir secara rasional.
Di hadapan semua orang yang sedang menahan napas menyaksikan perdebatan tersebut, Akahebi mendongak menatap langit-langit, lalu berkata:
“Maaf, Ao. Aku keluar dari Hebi.”
Untuk sesaat, atmosfer di sekitar mereka seketika membeku.
“…Apa ini semacam lelucon?” tanya Aohebi ternganga.
“Aku telah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada Hebi, jadi mau bagaimana lagi. Aku akan mengincar puncak yang lebih tinggi,” balas Akahebi.
“Fufu… Aku juga keluar dari Kitsune. Karena kini aku telah menemukan sesuatu yang harus kutebas. Maaf ya, bisakah kamu menyampaikannya kepada Skytail?” sahut Swordtail ikut menimpali
Orang-orang ini… Apakah mereka lupa bahwa mereka sendiri adalah bos di faksi masing-masing?
Ini bukan sekadar perkara satu orang anggota biasa yang mengundurkan diri, tahu?
“Kgh! …Ahh, kepalaku mulai terasa pening. Himuro.”
Aohebi memegangi kepalanya yang terasa pening, lalu memanggil nama Himuro. Dari sela-sela jarinya, terpancar sebuah tatapan mata yang dipenuhi oleh kemarahan dan niat membunuh yang sangat kuat, hingga sanggup membuat Himuro merasa merinding.
Situasinya kini benar-benar berbahaya, seolah-olah akan meledak jika ada satu saja masalah lain yang terjadi.
“Kita mundur. Kita harus membahas hal ini terlebih dahulu.”
“…Dimengerti, Bos. Kalian semua mendengar itu, kan?! Kita mundur!!” teriak Himuro
Siapa sangka… Siapa yang menyangka situasinya akan menjadi seperti ini.
Bahwa mereka akan dibuat kelimpangan sejauh ini bukan oleh musuh, melainkan oleh rekan mereka sendiri. Hal semacam ini sama sekali tidak pernah terlintas di dalam pikiran mereka hingga beberapa hari yang lalu.
Meskipun langkah mereka sudah sangat dekat untuk bisa meloloskan diri dari penjara, namun apa boleh buat. Masalah internal kini jauh lebih mendesak untuk ditangani ketimbang mengurus Thousand Tricks.
Jika Thousand Tricks telah memprediksi semua ini sejak awal, maka kemampuan strateginya benar-benar layak disebut sebagai rencana yang sangat jenius dan tak terduga—
Mendengar instruksi dari Himuro, para anggota faksi mulai bergerak mundur secara perlahan. Di antara mereka, ada beberapa orang yang terus menatap tajam ke arah perginya para sipir.
Sifat dari masalah internal ini pada dasarnya sangat berbeda dengan munculnya musuh yang kuat. Apalagi, saat ini ada banyak sekali anggota baru yang baru saja masuk ke dalam lingkaran aliansi mereka.
Jika masalah ini dibiarkan begitu saja, ikatan persatuan mereka dipastikan akan retak, dan mereka akan dipandang rendah oleh faksi lain. Hal tersebut tentu akan memengaruhi kekuatan organisasi di masa mendatang.
Akahebi dan Swordtail adalah pengecualian. Mereka merupakan kartu as yang terlalu kuat untuk dibuang, meskipun tindakan mereka telah mengacaukan keselarasan organisasi.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi anggota yang lain. Jika ada yang berani melakukan tindakan meremehkan organisasi, mereka akan segera dieksekusi di tempat.
Himuro tidak ingin memberikan beban yang lebih berat lagi kepada Aohebi, dan berkata:
“Tetaplah tenang, pak tua Ao. Situasi kita tidak memburuk. Kita hanya sedikit kembali ke titik awal. Lagipula, kita masih memiliki lebih dari seratus orang di sini.”
“Aku tahu. Aku tidak perlu diingatkan soal itu.”
Aohebi berusaha keras menahan amarahnya dan mencoba untuk tetap menjaga ketenangannya. Pada saat itulah, permukaan tanah mendadak bergetar sedikit.
Apa ini gempa bumi…? Jika boleh meminta, Himuro justru berharap agar penjara ini hancur lebur sekalian.
Himuro menghela napas dalam-dalam, lalu kembali mengeraskan suaranya untuk mendesak para anggota agar segera bergegas mundur.


